DWI AGUS/RADAR JOGJA
PRODUKTIF: Pardiman Djoyonegoro (kanan) saat Mata Cangkem, konser soundtrack di TBY, kemarin malam (14/3).

Tampilkan 15 Gending, Sekaligus Ajang Napak Tilas

Perjalanan bermusik seorang Pardiman Djoyonegoro terus berkembang. Pria murah senyum ini terkenal produktif menciptakan gending dengan pengiring gamelan. Sabtu malam (14/3) lalu menjadi pembuktiannya dalam berkarya. Sebuah konser bertajuk Mata Cangkem digelar di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY).
DWI AGUS, Jogja
Concert Hall TBY malam itu kembali bergema. Kali ini giliran musisi bersahaja Pardiman Djoyonegoro menunjukkan keahliannya. Pria yang terkenal kocak ini menggelar konser gamelan bertajuk Mata Cangkem.
Bukan konser biasa yang disajikan oleh pria kelahiran Bantul, 07 Agustus 1968 ini. Melainkan sebuah konser khusus yang menyajikan soundtrack musik teater. Maka tak heran ratusan kursi merah concert hall TBY penuh sebelum konser dimulai.
“Konser ini jadi semacam napak tilas kegiatan berkesenian saya. Ada 15 tembang yang dibawakan dalam konser ini. Jadi ajang nostalgia juga, karena semuanya soundtrack pementasan teater,” katanya.
Sebanyak 15 gending ini merupakan komposisi Pardiman Djoyonegoro. Selain hadir dengan format asli, beberapa gending juga diaransemen ulang. Warna musik yang hadir pun lebih beragam, karena tangan dingin Pardiman mampu memberikan ruh pada gending-gending yang dibawakan.
Mengawali konser, puluhan anak asuh Pardiman yang tergabung dalam Sragam ABG memasuki panggung pementasan. Kelompok ini merupakan anak-anak yang pandai memainkan gamelan. Uniknya dalam konser ini Pardiman tidak serta merta turut bermain gamelan.
Dirinya terlihat asyik mondar-mandir di panggung. Sesekali guyonan khasnya pun terlontar. Alhasil tawa penonton terdengar menyambut candaan yang dilemparkan Pardiman. Layaknya seorang guru, Pardiman pun menata anak-anak asuhnya untuk berjajar dengan rapi. “Anak-anak itu pada dasarnya senang dengan musik. Dalam musik mereka bisa belajar tidak hanya nada, tapi filosofinya. Termasuk bagaimana belajar gamelan dan memaknainya. Kuncinya, kenalkan dan bebaskan anak untuk bermain, bukan dipaksakan untuk mengenal gamelan,” kata pemilik nama asli Pardiman ini.
Dalam kesempatan ini Sragam ABG memainkan sebanyak tiga repertoar. Gending berjudul Lagu Bermain pun menjadi pembuka konser ini. Pukulan dari tiap-tiap penggamel pun terdengar selaras dengan lirik yang dinyanyikan.
Repertoar pembuka ini merupakan gending yang diciptakan 10 hari setelah peristiwa Gempa Jogjakarta 2006 silam. Pardiman mengungkapkan gending ini tercipta untuk menemanai anak-anak bermain. Selain itu juga terapi untuk menghilangkan trauma yang dialami anak-anak korban gempa.
Berlanjut dengan The Song The Sawag yang digarap di tahun 2013 silam. Gending ini tercipta untuk mengurungi teater anak di pelataran Imah Cangkem milik Pardiman. Berlanjut dengan gending penutup Kancil Merawat Timun.
“Kancil Merawat Timun memiliki makna pembelajaran untuk anak-anak. Ada pesan gerakan moral yang menanamkan sifat jujur dan tidak mengambil hak orang lain. Harapannya lagi ini dapat mengajak anak-anak memiliki rasa handarbeni pada alam dan sekitarnya. Bisa dibilang ajakan untuk tidak korupsi dari usia dini,” ungkapnya. Memasuki sesi berikutnya giliran para musisi dewasa memasuki panggung. Kali ini membawa bendera Acapella Mataraman, Pardiman membawakan sebanyak 12 tembang. Kemasan konser pun lebih menarik karena hadir dengan musik ala Acapella Mataraman.
Meski bertajuk konser, Pardiman tidak mau terlalu serius dalam mengemasnya. Tujuannya agar penonton benar-benar bisa menikmati pementasan. Seting panggung pun ditata layaknya sebuah perkampungan kecil. Ada tempat bermain gamelan lengkap dengan cakruk di sisi kiri panggung. Seting panggung ini juga bertujuan untuk menguatkan konsep konser, di mana mengangkat lagu dan gending pengiring pementasan teater. Beberapa adegan teater pun diselipkan dalam pementasan ini. Seperti potongan adegan lakon Madekur Tarkeni karya Arifin C. Noor.
“Kali ini berbeda, biasanya kita yang mengiringi tetater. Tapi kali ini teater yang mengiringi kita, ben ketok apik sithik,” katanya lantas tertawa. Tentang seting panggung pedesaan, Pardiman memiliki alasan kuat. Menurutnya, suasana pedesaan sangatlah menyenangkan. Selain itu baginya desa dapat dilambangkan sebagai wujud kejujuran dan ketulusan. “Saya merasakan selama ini seperti itu, nilai-nilai ini begitu kuat terpancar. Sehingga memang dihadirkan dalam wujud seting panggung,” imbuhnya.
Meski bermodalkan gamelan, konser ini istimewa. Alunan musik keroncong hadir dalam tembang Kroncong Tawas Pita. Tembang ini merupakan lagu pengiring Teater Tari karya RM Kristiyadi pada tahun 2008.
Lalu ada juga Tamba Rukun yang hadir dengan nuansa musik modern. Meski syair awalnya bahasa Jawa, di tengah lagu terselip lirik bahasa Inggris. Bahkan alunan music reggae menyatu dengan gamelan dan alunan para sinden. Tentu saja aransemen ini mengundang tepuk tangan dari penonton yang hadir malam itu.
“Jadi syairnya Jawa tapi kita Inggriskan dengan logat Jawa. Lagu ini diciptakan tahun 1997 saat pementasan teater tradisional wayang kulit dengan dalang Ki Catur Benyek Kuncoro. Lalu dibawakan lagu untuk mengiringi studi akting Teater Garasi dengan lakon TUK. Maknanya ajakan untuk hidup guyub rukun meski dalam sebuah perbedaan,” katanya. Melalui konser ini Pardiman juga ingin mengajak para generasi muda untuk peduli. Terutama terhadap pewarisan kesenian tradisi yang dimiliki oleh Jogjakarta. Dirinya ingin membuktikan ragam kesenian tradisi bukanlah suatu hal yang kuno.
Dengan aransemen yang apik, kesenian tradisi layak bersanding dengan kemajuan zaman. Bahkan melalui aransemen juga menuntut kreativitas untuk menghasilkan karya seni yang indah. Sehingga kesenian tradisi tidak mati karena arus dinamika zaman.”Gamelan, tari, wayang dan kesenian tradisi lainnya adalah perekat sosial. Dalam konser ini menjadi bukti dapat mengguyubkan semua generasi. Saya tidak akan berhenti mengkampanyekan gamelan dan kesenian lainnya sebagai ujung tombak budi pekerti,” tandasnya. Konser pun ditutup dengan dua tembang yang bernada persatuan. Diawali tembang yang berjudul Indonesiaku dan ditutup secara apik melalui tembang Nusantara Jaya. (*/laz/ong)