GUNAWAN/RADAR JOGJA
MAKSIMAL: Ketua Ikatan Petani Organik Gunungkidul Iswanto di antara hasil pertanian cabai di wilayah Playen dampingannya kemarin (15/3).

Ubah Pola Tradisional Menjadi yang Lebih Produktif

Hasil panen para petani harus terus ditingkatkan. Upaya pendampingan secara juga harus digiatkan, baik oleh pemerintah maupun pihak lain yang menaruh kepedulian.
GUNAWAN, Gunungkidul
DENGAN cara seperti ini, diharapkan gairah petani bisa ikut meningkat. Selain itu, generasi muda pun semakin tertarik untuk terjun menjadi petani profesional.Ketua Ikatan Petani Organik Gunung-kidul Iswanto mengatakan, selama ini petani yang mengandalkan tadah hujan menerapkan pola tradisi dalam bercocok tanam. Misalnya, usai tanam padi kemudian dilanjut tanam kedelai. Padahal sebenarnya sangat mungkin bercocok tanam dengan hasil lebih, contohnya diganti tanaman lombok. “Jadi kami mengajak petani menjadi lebih kreatif memanfaat lahan pertanian. Sehingga lebih optimal pemanfaatan hasilnya. Mengubah dari pola tradisional menjadi produktif,” ujarnya.
Menurut dia, dari beberapa demplot sistem pertanian produktif semi organik, mampu menghasilkan 12 ton gabah panen setiap hektar.Diakui, pemerintah memang sudah melakukan pen-dampingan seperti dengan sekolah lapangan (SL). Namun demikian, hal tersebut masih perlu ditingkatkan. “Setelah kami memberikan pen-dampingan dan hasilnya memuaskan, petani akan sadar dan mengikuti pola kita,” ucap pensiunan polisi yang baru tiga tahun menggeluti pertanian organik ini.Sekarang, lanjut dia, upaya melindungi petani juga perlu dilakukan. Kestabilan harga gabah dan beras sangat di-butuhkan petani sehingga tidak terpuruk dengan permainan harga dari distributor. Dengan demikian peningkatkan hasil produksi pertanian bisa meningkat tajam dan generasi muda akan kembali menyukai pertanian karena memiliki nilai tawar. “Makanya saya ingin membuktikan dengan sistem pertanian organik, karena akan me-ningkatkan derajat petani,” bebernya.
Selain peningkatan produktivitas padi, dia juga memiliki demplot untuk sayuran terutama cabai. Hasilnya sangat bagus, jika biasanya bisa panen 15 kali, namun dengan sistem organik yang kita terapkan, petani bisa panen hingga 22 kali. Dan yang terpenting, residunya sangat rendah. “Dengan pendekatan sistem pertanian ini, sangat memungkinkan Gunungkidul yang tadinya hanya menjadi wilayah yang tidak diperhitungkan untuk produk-tivitas pertanian menjadi daerah swasembada pangan,” ucapnya.Kepala Dukuh Tumpak, Ngawu Playen, Sumanto mengaku menggunakan pupuk organik dengan komposisi 75 persen organik sisanya pupuk phonska. Setelah di ubin, setiap dua meter persegi menghasilkan 8 Kg gabah. Hasil ini di atas hasil SL milik Dinas tanaman pangan dan Hortikultura (TPH) yang berhasil mendapatkan 5,6 kilogram gabah setiap dua meter persegi. “Hasil panen setelah mendapatkan sentuhan organik dan perawatan maksimal menjadi hasil panen terbesar sepanjang saya menggarap lahan tanah lungguh,” kata Sumanto. (*/din/ong)