JOGJA – Direktur Kerja Sama Ekonomi ASEAN Ina Hagniningtyas Krisnamurt-hi mengatakan, peluang calon tenaga kerja Indonesia (TKI) bekerja di negara-negara ASEAN sangat besar. Namun, peluang itu hanya dimiliki TKI yang mempu yai keterampilan dan kemam-puan berbahasa Inggris yang baik. Apabila keterampilan baik tapi penguasaan ba-hasa Inggris minim, maka dapat dipastikan akan sulit mendapatkan pekerjaan di negara-negara ASEAN.”Dari sisi SDM sebenarnya TKI sangat baik. Hanya ke-banyakan anak-anak Indo-nesia itu tidak pandai ba-hasa Inggris. Akibatnya, perusahaan asing itu enggan menerima karena dikhawatirkan akan menyulitkan ketika berkomu-nikasi,” kata Ina Hagniningtyas Krisnamurthi dalam Seminar Nasional Pendidikan Matema-tika di FMIPA UNY, Sabtu (14/3).
Sesuai kesepakatan negara- negara ASEAN, ada delapan bidang kerja yang mewajibkan tenaga kerjanya menguasai bahasa Inggris. Yakni, engineering service, nursing service, architectural service, Framework Arrangement for mutual Recognition on Surveying Qualification, tourism professional, accountancy service, medical practitioners, dan dental practitioners. Dari ke-8 bidang kerja itu, Indonesia paling siap ada-lah engineering. Saat ini engineer Indonesia sudah memiliki 200-an engineering yang memiliki sertifikasi ASEAN. Dalam bidang engineering, semua ne-gara di ASEAN kalah dengan Indonesia. Saat ini Indonesia tengah menyiapkan tenaga kerja bidang arsitek dan akuntan. “Sertifikasi di Indonesia memang masih kurang. Kurangnya bukan dari sisi kemam-puan SDM, tapi soal bahasa,” tambahnya.Ia mencontohkan, perawat Indo-nesia sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Bahkan di Eropa dan Kanada perawat asal Indone-sia paling unggul. Sayangnya, ba-nyak perawat Indonesia tidak menguasai bahasa Inggris. Akibat-nya, para perawat Indonesia tidak diminati negara lain. (mar/laz/ong)