BANTU WARGA: Upaya mengurangi kemiskinan di Kulonprogo dengan program bedah rumah, khususnya yang masuk kategori rumah tidak layak huni (RTLH).
KULONPROGO – Program bedah rumah yang didengungkan di Kulonprogo mendapatkan banyak perhatian. Bahkan, berbagai pihak seolah berlomba dengan suka rela untuk membantu program tersebut. Kali ini, bantuan bedah rumah berasal dari Kagama Kedokteran UGM Jogjakarta. Mereka membantu tiga rumah tidak layak huni (RTLH) di Kecamatan Sentolo dan Kokap, Sabtu (14/3) lalu.
Ketiga rumah tersebut masing-masing milik Jemingan, warga Dukuh Ploso, Banguncipto, Kecamatan Sentolo. Juga rumah milik Tugiyo warga Dukuh Belik, Demangrejo, Sentolo. Serta rumah milik Harsono, warga Dukuh Teganing 2, Hargotirto, Kokap. Masing-masing menerima bantuan bedah rumah sebesar Rp 10 juta.
Perwakilan Kagama Kedokteran UGM Prof Suharjo mengungkapkan, pihaknya sangat mendukung program bedah rumah yang dilaksanakan Pemkab Kulonprogo. Bedah rumah dinilai ampuh dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.
“Sakit itu berawal dari ketidakmampuan, baik ketidakmampuan secara finasial juga dalam bekerja. Bedah rumah ini sangat efektif meringankan beban masyarakat yang tidak mampu, sehingga kesehatannya juga akan lebih baik,” ungkapnya.
Anggota Kagama Kedokteran lainnya dr Gideon yang juga owner K24 mengaku merasa terpanggil untuk turut membantu warga Kulonprogo yang masih menempati RLTH. “Kami sangat mendukung program bupati dalam melaksanakan program bedah rumah. Harapan bisa mempercepat pengentasan kemiskinan dan meningkatkan kesehatan masyarakat,” ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo memberikan apresiasi dan merasa bangga dengan warga. Mereka masih menjunjung nilai gotong-royong, termasuk dalam menyukseskan program bedah rumah. “Saya juga ucapkan terima kasih banyak kepada Kagama Kedokteran yang bersedia membantu bedah rumah di Kulonprogo,” ucapnya.
Menurut Hasto, ada yang hebat dalam program bedah rumah, donatur seolah berlomba untuk membantu. Hal itu jika dikorelasikan dengan penghayatan nilai-nilai Pancasila sangat relevan. Pancasila jika disarikan hasilnya adalah gotong-royong, jadi warga Kulonprogo jelas sudah mengamalkan Pancasila.
“Saya sangat bangga dengan warga Kulonprogo yang masih menjunjung gotong-royong, ada yang membantu material, uang, tenaga dan pikiran,” ujarnya. (tom/ila)