GUNAWAN/RADAR JOGJA PENCEGAHAN: Petugas melakukan fogging di wilayah Tawarsari, Wonosari beberapa waktu lalu. Warga diimbau untuk terus melakukan aksi pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
GUNUNGKIDUL – Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali merenggut satu korban jiwa. Itu artinya, per Maret 2015 sudah terdapat dua orang meninggal dunia akibat penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aides Aigepty tersebut.
KepalaBidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul Sumitro mengatakan, korban terbaru meninggal dunia akibat DBD menimpa seorang warga Singkar II, Wareng, Wonosari Budi Purnomo. Sebelum menghembuskan nafas terakhir sempat mendapatkan perawatan medis di RS Sardjito. “Namun kami masih menunggu laporan dari pihak rumah sakit,” kata Sumitro, kemarin (16/3).
Dia menjelaskan, penderita DBD tahun ini cukup tinggi. Berdasarkan data hingga awal Maret sudah mencapai 159 orang. Puncak wabah DBD sendiri terjadi pada bulan Januari lalu dengan jumlah penderita sebanyak 109 orang.
“Dari pola kasus pada tahun-tahun sebelumnya, penyebaran DBD paling banyak terjadi di bulan Januari di mana mulai memasuki musim penghujan. Banyaknya genangan air menyebabkan nyamuk Aides Aigepty mudah untuk berkembang biak sehingga berdampak terhadap tingginya DBD,” terangnya.
Menurutnya, lepas Januari biasanya jumlah penderita DBD secara berangsur-angsur mengalami penurunan pada bulan berikut. Penurunan tersebut dengan catatan, jika masyarakat giat melaksanakan pola hidup sehat dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
“Pencegahan yang sangat efektif adalah PSN. Untuk itu kami terus galakkan program PSN di semua kecamatan di Gunungkidul,” jelasnya.
Untuk diketahui, pada Jumat (13/3) seorang warga Singkar II, Desa Wareng, Wonosari, Budi 13/3) Purnomo, 37, meninggal dunia setelah terjangkitDBD. Budi merupakan korban meninggal kedua akibat penyakit yang disebarkan oleh nyamuk Aides Aigepty setelah seorang anak dari Desa Katongan, Nglipar meregang nyawa pada awal Januari lalu. (gun/mga)