Heru Pratomo/Radar Jogja Hari Dendi, Pengusaha Sekaligus Budayawan di Usianya ke-74
Pada 19 Februari 2015 lalu, pengusaha sekaligus budayawan Hari Dendi tepat berusia 74 tahun. Dalam usianya yang sudah sepuh itu, saat ini masih banyak harapan yang ingin dicapainya. Salah satunya untuk mewujudkan DIJ yang benar-benat istimewa.
HERU PRATOMO, Jogja
Suasana hangat terasa di arena kuliner Kampayo XT Square, Sabtu malam (14/3). Beberapa tokoh seperti ekonom Sri Edi Swasono, anggota Dewan Pertimbangan Presiden Sri Adiningsih, kerabat Keraton Jogja seperti GBPH Yudhaningrat dan KPH Yudhonegoro, Wakil Wali Kota Jogja Imam Priyono, Wakil Bupati Sleman Yuni Satia Rahayu, serta kepala dinas maupun pengusaha di DIJ berkumpul.
Mereka datang dalam rangka launching buku Hari Dendi, Setia Menembus Batas Lintas Generasi serta syukuran ulang tahun ke-74 Hari Dendi. Ya, tahun ini ulang tahun pengasuh dialog budaya Yogya Semesta ini mendapat hadiah spesial, dengan dibuatkan buku. Bukan sembarang buku, tapi berupa kumpulan testimoni para sahabat serta orang-orang yang pernah berinteraksi langsung dengan Romo Hari, panggilan akrab dari para sahabatnya.
Menurut salah seorang penggagas buku Roby Kusumaharta, penyusunan buku ini hanya butuh waktu sebulan. Sejak Januari 2015, mereka langsung mengontak para sahabat Hari Dendi. Ada sekitar 300 tokoh yang dikontak, tapi hanya 111 komentar saja yang dijadikan buku. “Ada yang kami datangi langsung, via email, bahkan SMS. Karena keterbatasan halaman, hanya 111 komentar saja yang dibukukan,” terangnya.
Roby mengaku tidak banyak mengalami kesulitan dalam penyusunan buku, karena para sahabat Hari Dendi sangat antusias. Kesulitan justru untuk membuat pria kelahiran Malang 19 Februari 1941 tersebut tidak tahu jika para sahabatnya sedang membuat kejutan untuk dia. “Beberapa kali rapat ternyata Romo Hari datang. Kami berusaha jangan sampai ketahuan, tapi sepertinya ketahuan juga,” ujarnya, sambil tertawa.
Romo Heri sendiri mengaku berterima kasih dengan perhatian para sahabatnya. Meskipun begitu, dirinya belum membaca semua komentar yang dituliskan. Pada usianya le-74, masih ada yang belum tercapai. Dirinya menyebut keistimewaan DIJ hingga saat ini belum terwujud. “Keistimewaan DIJ belum tercapai, indikasinya di tingkat bawah kesejahteraan masyarkat belum tercapai,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia berharap pisowanan agung serta peluncuran logo Jogja Istimewa beberapa waktu lalu bisa menjadi gerakan kebudayaan dan gerakan masyarakat untuk mewujudkan Jogja yang benar-benar istimewa. Pamong budaya di tingkat wilayah, seperti yang disampaikan gubernur juga bisa diwujudkan. “Harus melalui gerakan rakyat, tidak bisa hanya mengandalkan birokrat dan akademisi,” terangnya.
Romo Hari juga kembali mengingakan pesan yang disampaikan Gubernur HB X saat pisowanan agung, yang meminta penataan lalu lintas dan periklanan di Kota Jogja dan Sleman. Ia menilai di Jogja memang tidak perlu ada baliho, tapi bisa diganti dengan seni instalasi yang dibranding dengan iklan.
Selain sebagai pengusaha dan budayawan, ada satu lagi profesi yang dijalani Hari Dendi, yang tidak banyak diketahui orang yaitu sebagai penyusun naskah sambutan Gubernur DIJ HB X. Ketika ditanyai hal itu, Hari mengaku sudah mulai membantu menyusun pidato saat HB X masih KGPH Mangkubumi dan menjabat Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) DIJ. “Sudah membantu membuat sambutan sejak aktif di Kadin DIJ, pada 1980-an,” terangnya.
Ia pun mengaku tidak hafal sudah berapa banyak sambutan yang dibuatnya. Tetapi kapasitas kakek lima cucu ini dalam menyusun sambutan pidato untuk HB X sudah diakui banyak pihak. Paling tidak, hal itu terlihat dari komentar yang dituliskan mantan Kepala Bappeda DIJ Ir Bayudono. “Sebagai speechwriter Gubernur DIJ saya akui two thumbs up !!! untuk Mas Hari Dendi, tidak hanya dari aspek konten naskah, tapi juga kemampuan Mas Hari Dendi untuk menerjemahkan pemikiran-pemikiran Bapak Gubernur. Rasanya kok sampai saat ini belum ada yang dapat menyamai Mas Hari Dendi,” tulisnya.
Hal yang sama juga dituliskan oleh mantan Sekretaris Pribadi Gubernur DIJ Retno Setyowati, yang menilai dedikasi dan pengabdian tanpa pamrih Hari Dendi. Bahkan ketika dalam kondisi kurang sehat, tetap berupaya memenuhi kewajibannya sebagai ‘abdi dalem’ yang senantiasa sendika dawuh mengemban amanah dawuh dalem.
“Saya selalu sampikan pada beliau betapa pentingnya kaderisasi. Namun beliau selalu menjawab dengan senyuman khas Hari Dendi yang penuh misteri, hingga saat ini…,” tulisnya. (*/mga)
Ingin Wujudkan DIJ yang Benar-Benar Istimewa