HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
MAHAL: Pedagang bawang merah di pasar Nanggulan mengaku kehabisan stok dan terpaksa menaikkan harga, kemarin (16/3).
KULONPROGO – Harga komoditas bawang merah di sejumlah pasar tradisional di Kulonprogo naik. Kenaikan bumbu dapur itu kemungkinan besar dipicu cuaca yang menyebabkan produksi bawang merah menipis dan pasokan barang dipasaran berkurang.
Pedagang beberapa pekan terakhir bahkan hanya bisa menyetok tiga sampai empat kuintal sekali kulakan. Kondisi semakin sulit, lantaran harga bawang merah impor juga ikut melonjak.
“Barangnya tidak ada, jadi harganya biasanya ikut naik,” ujar Ngatirah, 55, salah satu pedagang bumbu dapur di Pasar Gawok, Wates kemarin (16/3).
Ngatirah mengungkapkan, barang langka lantaran tidak banyak pertani lokal yang membudidayakan bawang merah saat musim penghujan seperti ini. Sementara harga bawang merah impor mengalami kenaikan pemicunya juga karena nilai tukar rupiah melemah.
“Biasanya saya atau pedagang lain di pasar ini biasa kulakan sebanyak satu ton. Untuk stok lokal mengambil dari daerah Jawa Timur. Sisanya dari Bali dan bawang merah impor. Namun karena tak ada barang, belakangan ini hanya bisa tiga sampai empat kuintal saja sekali kulakan,” ungkapnya.
Adapun kenaikan harga jual bawang merah sudah terjadi sejak sepekan terakhir. Harga bawang merah lokal naik dari Rp 12 ribu per kilogram menjadi Rp 17 ribu per kilogram. Sementara bawang merah impor naik dari Rp 20 ribu per kilogram menjadi Rp 27 ribu per kilogram. “Kalau bawang putih masih stabil,” tuturnya.
Menurut Ngatirah, kenaikan harga tidak terlalu berpengaruh pada tingkat penjualannya. Sebab, bawang merah menjadi salah satu bumbu dapur yang wajib ada oleh setiap rumah tangga. “Ada yang protes kok harganya mahal banget, tapi karena dari produsennya sudah naik saya jelaskan. Kendati keberatan konsumen tetap beli,” ujarnya.
Seorang pembeli, Parjiyem, 60, warga Nanggulan menyatakan, kenaikan harga bawang merah dirasakan sangat memberatkan. Terlebih bawang merah sudah menjadi kebutuhan pokok untuk bumbu masakan, harus selalu ada di dapur. “Ya mau gimana lagi, tetap beli kendati mahal. Tentu kami berharap semua harga kebutuhan rumah tangga bisa stabil,” harapnya. (tom/ila)