DWI AGUS/RADAR JOGJA APRESIASI BAGI MAESTRO: Seorang bocah menikmati pameran Akar Timur di ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta( TBY), kemarin (17/3).
JOGJA – Seni lukis telah ada sejak embrio Indonesia sedang dibentuk. Sebut saja era Raden Saleh dan Moi Indie yang memiliki warna indahnya sendiri. Warna-warna tersebut turut membentuk dan mempengaruhi seni lukis Indonesia ke depannya.
Ragam warna ini lalu terangkum dalam beberapa paguyuban. Setiap paguyuban mengusung identitas yang kuat. Mulai baik identitas genre lukisan hingga kedaerahan. Hal itu tercermin dalam pameran Akar Timur di ruang pamer Taman Budaya Yogyakarta( TBY).
“Setiap daerah pasti memiliki ciri khas dan kekuatan tersendiri. Ini berpengaruh pula dalam kehidupan seni para senimannya. Terbentuk dari kebiasaan menjadi budaya dan bisa merepresentasikan ciri khasnya,” kata curator pameran Jupri Abdullah, (17/3).
Pameran ini menyajikan karya kolektif para penggawa Akar Timur hingga 21 Maret. Paguyuban ini sejatinya berdiri di Sidoarjo, Jawa Timur. Meski begitu, anggotanya tidak hanya seniman asal Jawa Timur. Selain dari Pasuruan, Surabaya dan SIdoarjo, juga ada seniman dari Jogjakarta dan Jakarta.
Jupri menambahkan, pameran ini merupakan bentuk keguyuban. Sebanyak 10 pelukis berpartisipasi dalam pameran ini. Total karya yang disajikan sebanyak 52 karya dengan berbagai ukuran.
“Gerakan Akar Timur pertama kali di pasuruan pada tahun 2013. Awalnya sebagai bentuk apresiasi kepada para maestro lukis. Dulu banyak kelompok – kelompok lintas daerah tapi perlahan rontok. Sehingga terbesit untuk menggerakan lagi dengan wadah yang baru,” kata Jupri.
Dalam pameran ini, setiap pelukis menyajikan lebih dari satu karya. Karya yang disajikan tidak hanya karya baru namun juga karya-karya lama mereka. Setiap pelukis pun hadir dengan persepsi yang berbeda.
Menurut salah seorang pelukis, S. Wandhi, konsep ini menarik. Terutama dalam melihat dinamika masing-masing pelukis. Diakuinya, meski berdiri dalam satu bendera, setiap kehidupan seni pelukis berbeda.
“Kami jadi bisa saling melihat karya-karya yang dipamerkan. Dalam pameran ini rata-rata karya yang disajikan memang berukuran besar. Setiap pelukis pun menampilkan minimal 5 karya,” katanya.
Dalam pameran ini, karya milik Dharganden tercatat sebagai karya terbesar. Tak tanggung-tanggung dirinya menuangkan ide dalam kanvas berukuran 13 m X 1,55 m. Sang pelukis menorehkan dalam karya yang berjudul Distraction Area Lapindo.
Karya ini menggambarkan penderitaan masyarakat Porong Sidoarjo. Khususnya dalam peristiwa lumpur Lapindo. Secara gambling, Dharganden menggambarkan kepiluan kehidupan di Porong, Sidoarjo.
“Dengan adanya pameran ini semua orang bisa melihat bagaimana kisah di sana. Karya seni pun bisa menjadi perantara pesan sosial. Sehingga tidak hadir sebagai karya saja namun ada nilai estetika, etika hingga pesan morilnya,” kata sang pelukis.
Dalam pameran ini, selain Wandhi dan Dharganden yang berasal dari Sidorarjo, ada Ali Topan. Perwakilan Jakarta oleh Aboe Jumroh dan Pasuruan diwakili Syamsul Huda. Tuan rumah Jogjakarta diwakili Khadir Supartini, N Roel, dan Kik Wahyu Pesang. Sedangkan dari Surabaya Lukman Gimen dan Agus Balung. (dwi/mga)