KULONPROGO – Serangan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) tampaknya masih menghantaui warga. Sebelumnya DBD telah merenggut satu nyawa di Gunungkidul. Kini di Kulonprogo, dinas kesehatan mencatat jumlah serangan penyakit demam berdarah sejak bulan Januari hingga saat ini mencapai 30 kasus.
Jumlah kasus yang terbilang tinggi ini tidak terlepas dari siklus lima tahunan DB yang jatuh pada tahun 2015. Selain itu musim penghujan juga memicu vektor yakni nyamuk aides aigepty maupun albopictus lebih mudah berkembang biak.
“Penularan demam berdarah terjadi di Pedukuhan VII Kenteng, Banaran, Galur. Sedikitnya ada tiga warga yang positif DBD, dan hari ini (kemarin) sudah dilakukan fogging atau pengasapan,” terang Pengelola Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Seksi Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo Habib Abubakar Ahmad, kemarin (17/3).
Habib menjelaskan, musim hujan seperti saat ini perkembangbiakan vektor semakin mudah. Itu lantaran banyak kubangan dan genangan air yang tidak terpantau. Cara yang paling efektif untuk dilakukan masyarakat tetap dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Namun jika sudah terindikasi positif ada yang terserang maka akan dibantu dengan fogging.
“Banyaknya vektor nyamuk yang muncul secara otomatis mempertinggi potensi penularan demam berdarah. Pengasapan akan kembali dilakukan sepekan kemudian, Selasa (23/3) mendatang,” ujarnya.
Pertimbangannya untuk membunuh jentik nyamuk yang masih ada di air, karena masa perkembangbiakan nyamuk dari larva menjadi nyamuk dewasa hanya membutuhkan waktu tujuh hari. Habib menyebutkan, secara keseluruhan kasus DBD dari Januari sampai saat ini sekitar 30 kasus, jumlah itu sebetulnya tidak banyak bertambah. Namun perkembangbiakan vektor yang tinggi, sehingga dilakukan pengasapan khususnya di wilayah yang terdeteksi.
Sejauh ini pengasapan sudah dilakukan di empat wilayah kecamatan, yakni Nanggulan, Sentolo, Wates, dan Galur. “Terakhir di Desa Banaran, Galur. Fogging kita lakukan setelah menerima laporan dari Puskesmas setempat yang menangani tiga pasien positif DBD,” ucapnya.
Mengantisipasi penyebaran DBD, langkah-langkah yang sudah dilakukan dinas kesehatan di antaranya melakukan cek lingkungan dan mengintensifkan pelaporan. Jika ada laporan dari rumah sakit masuk ke dinas langsung diteruskan ke Puskesmas yang kemudian melakukan penyelidikan epidemologi.
“Jika di lapangan positif terjadi penularan maka akan dilakukan pengasapan, bila tidak ada penularan kami melakukan penyuluhan dan abatesasi selektif bila diperlukan,” jelasnya.
Petugas Seksi P2M Dinkes Kulonprogo Ahmad Fauzan mengatakan, kasus serangan DBD di Pedukuhan VII Kenteng, Banaran, Galur, terjadi sekitar lima hari terakhir. Hasil penyelidikan epidemologis telah terjadi penularan hingga kemudian diputuskan fogging.
“Fogging ini membunuh nyamuk dewasa agar mati sehingga tidak menularkan demam berdarah. Tetapi yang paling efektif tetap dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), sehingga kami sarankan masyarakat lebih rajin melakukan PSN dengan langkah 3M (menguras, menutup dan mengubur),” katanya.
Juari, warga Pedukuhan VII Banaran menyambut baik pengasapan yang dilakukan di wilayahnya. Sebab sudah ada tiga warga yang positif terserang demam berdarah. Sebelum pengasapan, warga sudah melakukan proses pembersihan sampah dan menghilangkan genangan-genangan air. (tom/ila/mga)