REREN INDRANILA/RADAR JOGJA
BAGI PENGALAMAN: Salah satu pengajar yang berprofesi sebagai pramugari ber-selfie bersama siswa-siswi SD Totogan, Samigaluh. (Foto Kanan) Anak-anak kelas empat yang tengah memperagakan menjadi wartawan yang sedang mewawancarai narasumber.

Ketika Para Profesional Mengenalkan Pekerjaan Mereka

“Kenali potensimu, bukalah wawasan seluas-luasnya. Gapailah cita-citamu setinggi langit.” Itulah pesan yang ingin disampaikan para profesional dari berbagai bidang pekerjaan kepada anak-anak agar mereka bisa meraih mimpi. Para profesional ini bergabung dalam Kelas Inspirasi. Seperti apa kegiatan mereka?
REREN INDRANILA, Kulonprogo
“Ada yang tahu pekerjaan auditor?” tanya Diah Kusumawati Rukminingtyas yang berprofesi sebagai auditor di BPK kepada anak-anak kelas 3 di SD N Totogan, Samigaluh, Senin (16/3) lalu.
Pertanyaan itu menjadi permulaan baginya untuk mengenalkan profesinya saat mengikuti Kelas Inspirasi yang diadakan untuk ketiga kalinya di Jogjakarta. Kelas Inspirasi adalah salah satu program yang dicetuskan oleh Indonesia Mengajar yang merupakan gerakan di bidang pendidikan.
Diah, sapaannya, mengaku bersemangat dalam mengenalkan profesinya kepada anak-anak. Terlebih, profesi ini tidak terlalu familiar. Bahkan ada yang belum tahu jika profesi ini memiliki peluang dan masa depan yang baik.
Diah menuturkan, sebetulnya dia sudah sejak lama ingin ikut program ini hanya saja belum ada kesempatan karena pekerjaan yang belum bisa ditinggal. Nah, kebetulan Kelas Inspirasi Jogjakarta diadakan, sehingga dia mendaftar untuk menjadi relawan.
“Sebetulnya saya ingin ikut Indonesia Mengajar, tapi tidak kesampaian. Makanya ikut yang Kelas Inspirasi ini. Saya merasa tergerak untuk ikut serta dalam program ini. Kelas Inspirasi ini memberi pengalaman mengunjungi dan mengajar sehari di SD yang ditunjuk. Dengan harapan, para siswa bisa mendapatkan banyak pilihan cita-cita,” ungkapnya.
Diah mengungkapkan, pengalaman ini sangat berharga. Sebab lebih susah menghadapi anak-anak ketimbang orang dewasa. Dalam kegiatan ini, tampaknya tak hanya anak-anak saja yang mendapatkan pengalaman baru. Perempuan yang sedang menyelesaikan S2 di UGM ini juga merasakan hal serupa. Apalagi, baru pertama kali ini dia ikut program Kelas Mengajar. Selain itu, dia juga bisa bertemu dengan rekan-rekan yang lain dari berbagai macam profesi.
“Dalam satu tim yang mengunjungi SD N Totogan ada tujuh pengajar dari berbagai macam profesi. Ada yang pegawai bank, dosen, wartawan, administrasi kereta api, pramugari, dan perawat. Jadi bisa sekaligus berbagi pengalaman,” tuturnya.
Pengajar yang lain, Beny Soetedjo yang berprofesi sebagai karyawan bank swasta mengaku termotivasi untuk ikut Kelas Inspirasi karena menilik pengalaman masa kecilnya. Dari teman-teman SD-nya, hanya dia yang memiliki kesempatan untuk kuliah tinggi. Setelah dia telusuri, ternyata karena teman-temannya yang lain tidak memiliki bayangan masa depan yang harus diraih saat masa kanak-kanaknya.
“Makanya saya ingin memberikan informasi mengenai pilihan cita-cita dan impian kepada anak-anak. Selain itu, juga menyeimbangkan hidup. Bahwa hidup itu tidak hanya kerja tetapi juga harus berbagi. Kebetulan juga saya berada di Jogja,” ungkapnya.
Tak hanya Diah dan Benny saja yang tergerak untuk memotivasi anak-anak agar memiliki banyak pilihan cita-cita. Shani Nurhadi, seorang pramugari bahkan sudah empat kali mengikuti program ini di daerah yang berbeda. Dia pernah mengenalkan profesinya kepada anak-anak di Balikpapan, Jakarta dan Kepulauan Seribu serta Jogjakarta. “Seru, bisa bertemu dengan anak-anak dan menambah pengalaman,” tuturnya.
Disamping itu, setiap kali closing selalu dilakukan dengan kegiatan yang berbeda. Misalnya saja di SD N Totogan ini, dirinya dan pengajar yang lain menyiapkan kain kanvas dan spidol. Kemudian anak-anak menuliskan nama dan cita-cita yang ingin diraihnya. “Nah, kain ini bisa mereka pajang di kelas sehingga mereka bisa ingat cita-cita mereka dan termotivasi untuk mewujudkannya,” terang perempuan berambut pendek ini.
Pengalaman unik lainnya usai mengajar, anak-anak meminta tanda tangan kepada pengajar. Selain itu, mereka juga meminta akun media sosial, bahkan pin BB. “Lucu-lucu anaknya, menyenangkan,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SD Totogan Pracoyo Hadi mengatakan, kegiatan ini tentunya memberikan dampak baik bagi anak didiknya. Apalagi profesi yang dekat dengan anak-anak cukup terbatas, yakni guru dan petani. Itu karena kebanyakan pendudukan yang berada di Samigaluh bekerja sebagai petani, baik petani cengkih maupun teh.
“Anak-anak kelas enam yang laki-laki banyak yang ingin jadi pemain bola, bahkan mereka sudah membuat komposisi pemain dalam satu grup,” tuturnya.
Diungkapkan, sekolahnya baru kali pertama ini dikunjungi relawan dari Kelas Inspirasi. Dia pun memberikan apresiasi yang sangat besar dengan kegiatan ini. Bahkan jika diadakan lagi, sekolahnya siap menerima para profesional ini untuk mengenalkan jenis pekerjaan mereka.
“Kalau di sekolah sendiri jumlah siswanya ada 96 anak. Meski kami bukan sekolah inklusi, menerima anak yang berkebutuhan khusus juga karena jarak sekolah ini dengan sekolah lain cukup jauh. Jika melihat anak-anak, mereka terlihat antusias dengan kegiatan ini,” ungkapnya. (*/Laz/mga)