Pasar-pasar tradisional di pelosok desa masih jadi andalan warga mencari sayur mayur dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Biasanya, pasar ditemui di pinggir jalan atau dekat perkantoran. Setidaknya, tempatnya strategis. Berbeda dengan pasar ini, letaknya bersebelahan dengan kuburan kuno.
ADIDAYA PERDANA, Mungkid
Bola mata Wiyanti terus memandangi lingkungan di sekitar pasar. Perempuan 53 tahun ini merupakan salah satu penjual sayur-sayuran di pasar tradisional di perbatasan Desa Sambak dan Bambusari, Kecamatan Kajoran. Uniknya, pasar ini berada di pinggir kuburan. Itupun tanpa penghalang pagar sama sekali.
Saat itu, Wiyanti tengah menunggu pembeli yang datang. Sesekali, angin bertiup agak kencang. Di sela-sela itu, suara burung menemaninya saat berdagang. Angin menggerakan ranting daun pohon kamboja yang tak jauh dari duduknya. Pemandangan daun kamboja jatuh dari ranting menjadi kebiasaanya di setiap pagi. Sungguh suasana pasar yang berbeda dari layaknya pasar tradisional.
Ya, Wiyanti merupakan salah satu dari enam pedagang yang berjualan di pasar yang dikenal dengan Pasar Pahing tersebut. Lokasinya bersebelahan dengan kuburan.
Menurut Wiyanti, pasar tersebut dulu banyak pembelinya. Sejalan dengan banyaknya toko dan warung, kini pembelinya tidak begitu ramai.
“Meski sepi, tetapi selalu ada pembeli. Setiap pasaran, pendapatan yang saya peroleh minimal Rp 100 ribu,” ungkap Wiyanti kemarin (17/3).
Meski pasarnya kecil dan buka tidak setiap hari, cukup banyak konsumen yang menjadi pelanggan di pasar tersebut. Saat Radar Jogja berkunjung, ada pembeli yang mengaku sering berkunjung ke pasar tersebut. Di antaranya penjual bakso Mujirah, 39. Ia mengaku, biasa berbelanja di pasar tersebut.
Pemilik Kios Bakso Pak Mat yang ada di Desa Sambak ini biasa membeli bawang merah dan bawang putih. Ia juga membeli sayuran di Pasar Pahing.
Mila, pembeli lain yang merupakan warga Krajan, Desa Bambusari, Kajoran mengaku, biasa membeli sayuran di pasar tersebut.
“Saya sudah biasa membeli di sini. Jadi tidak takut, karena dekat dari rumah,” katanya.
Pasar tersebut sudah ada sejak lama. Para pedagang yang berjualan di situ mengakui, pasar ini ada sejak mereka masih kecil.
“Pasar ini sudah ada sejak saya masih kecil,” ungkap Asmah, 55, pedagang di pasar tersebut.
Pasar tersebut ukurannya tergolong kecil. Hanya berupa bangunan los dengan enam petak untuk pedagang. Jumlah pedagang tetapnya juga hanya segelintir orang. Dalam hal ini, hanya ada enam orang pedagang tetap dan lainnya pedagang tidak tetap, di mana jumlahnya tidak pernah pasti.
Beberapa pedagang yang sering berjualan, di antaranya Wiyanti, 53, warga Dusun Jarakan, Desa Sambak. Ia berdagang sayur dan jajan gorengan. Sedangkan Asmah, 55, menjajakan makanan kering. Penjual lain, Taslimah, 50, menjual bumbu dan sayuran, serta Bariyah, 50, memasarkan jajan pasar. Terakhir, Muslimah, 55, menjual daging ayam.
Pasar yang lahannya sebagian di Dusun Krajan, Desa Sambak dan sebagian di Desa Bambusari itu hanya buka setiap Pahing dan Wage. Seperti diketahui pasaran Jawa terdiri Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Meski letaknya di pinggir kuburan, para pedagang mengaku tidak pernah menemukan kejanggalan maupun kejadian aneh. Mereka tidak pernah didatangi pembeli yang asing. Rata-rata pembelinya warga sekitar yang sudah dikenal identitasnya.(*/mga)
Didominasi Penjual Berumur 50 Tahun Lebih