GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
PANEN PADI: Iring-iringan penari, bapak dan ibu petani yang membawa ubo rampe, serta anak-anak sekolah menuju ke area persawahan untuk memetik padi pertama kalinya di musim ini.
* Wiwit, Pesta Panen Raya
BANTUL – Suasana berbeda terlihat di PKBM Sanggar Anak Alam (Salam), kemarin (18/3). Tak hanya anak-anak dan guru saja yang terlihat berlalu-lalang di area sekolah yang berada di Nitiprayan, Ngestiharjo, Kasihan. Para petani dan masyarakat sekitar terlihat sedang bersiap-siap untuk memulai wiwit. Sebuah tradisi sebagai wujud ungkapan rasa syukur atas panen yang telah tiba.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, pesta panen raya atau wiwit ini diadakan bersamaan dengan pasar kreasi yang diadakan oleh Perkumpulan Sanggar Anak Alam bersama Pos Penyuluh Desa Ngesti Makmur. Pesta panen raya dimulai dengan prosesi doa bersama dengan membawa ubo rampe yang telah disiapkan sebelumnya. Iring-iringan penari, ibu-ibu petani yang membawa ubo rampe, dan anak-anak sekolah menuju ke area persawahan untuk memetik padi pertama kalinya di musim ini.
“Kami mencoba menghidupkan kembali tradisi wiwit dengan mengadakan acara Pesta Panen Wiwit, dilanjutkan dengan pasar pangan dan pertanian serta pentas ekspresi. Juga ingin mengenalkan tradisi wiwit kepada anak-anak. Agar mereka lebih menghargai alam,” ujar Ketua Perkumpulan Sanggar Anak Alam Sri Wahyaningsih, kemarin.
Dijelaskan, wiwit merupakan sebuah tradisi yang hidup dalam akar budaya masyarakat Jawa. Sebagai ungkapan rasa syukur atas panen yang telah tiba dengan ritual memboyong Dewi Sri sebagai simbolisasi dewi padi dan dewi kesuburan. Filosofi tradisi wiwit, secara batiniah adalah menjaga hubungan manusia dengan Tuhan yang memberikan kehidupan melalui kekayaan alam yang melimpah.
“Rangkaian acara ini dilaksanakan dua hari, mulai Selasa (17/3) dengan mengadakan workshop pertanian. Juga sarasehan budaya dengan tema menggali filosofi dan relevansi tradisi wiwit. Pembicara yang dihadirkan dari komunitas Kyai Kanjeng yang mengupas tradisi wiwit dari sudut pandang budaya,” ungkapnya. (ila/din/Nr)