Hilda Yudiastomo,
Guru Olahraga SMAN 1 Prambanan
IBU saya mengajari anak-anaknya untuk berkebun. Mulai dari menanam sayuran hingga tanaman obat keluarga atau TOGA. Dari kebiasaan yang dike-nalkan di rumah itu, saya menjadi tahu besarnya manfaat yang bisa diambil. Jika ingin memasak, kita tinggal ambil di kebun rumah. Kalau sakit, kita bisa menyembuhkan dengan obat herbal alami yang tumbuh di kebun sendiri. Berangkat dari kebiasaaan itu, mes-ki sekolah tidak memiliki program spesifik ‘Berkebun dan Bercocok Tanam’ guru dan sekolah menganjur-kan warga sekolah untuk lebih menge-nal soal tanaman. Karena ada banyak manfaatnya. Menjaga kebersihan udara menggunakan tanaman hidup, bisa memperindah dengan hijau atau warna-warni bunga-nya, bisa dikon-sumsi, dan ada yang bermanfaat untuk menyembuhkan sakit.
Besar harapan. mulai dari anak muda, siswa-siswi sekolah jadi tahu manfaat berkebun dan menyebarkan manfaat berkebun di rumah dan di lingkungan sekitarnya. Jadikan ber-kebun dan bercocok tanam sebagai budaya di ling-kungan kita. Banyak tang-gapan, berkebun dan bercocok tanam merupakan kegiatan yang sulit untuk dikerjakan. Padahal kalau kita mau belajar dan meluangkan waktu sedikit saja, kita bisa mulai dengan menanam tanaman yang mudah merawatnya. Lama ke-lamaan kita akan makin suka dengan berkebun serta bercocok tanam. Saya ambil contoh tanaman Obat Daun Sirih yang merambat, iseng-iseng saja cari bibitnya lalu ditem-pelkan di pagar rumah kita, disirami pagi dan sore juga sudah tumbuh. Di saat kita luka daun sirih bisa men-jadi antiseptic. (dap/man/ong)