Enggak Cuma Segarkan Mata…

ekspresi-Berkebun-
“Rumput tetangga kelihatan lebih nyaman karena dipenuhi tanaman yang selalu terlihat sejuk”
BEGITU dirasakan Dewangga Ista Dewata yang mengaku tak lagi punya lahan yang cukup untuk menyalurkan kesukaannya menanam.Ketika masih SD dan SMP, Dewang-ga hobi banget otak-atik tanaman di halaman rumah bibinya. Hampir tiap sore saat sang bibi tengah member-sihkan halaman, Dewangga selalu nimbrung membantu mengurus taman.”Dulu pas Budhe lagi bersihin hala-man, aku juga bersihin taman. Nyabutin rumput, potongin dan rapikan tanaman yang udah tinggi, ambil-ambil daun kering. Sekarang… cuma bisa lihat taneman tetangga yang ijo-ijo,” kesan siswa SMAN 2 Ngaglik.Tanaman itu enggak cuma jadi hiasan untuk menyegarkan mata, beberapa ma-cam tanaman obat ternyata layak juga ditanam sebagai pelengkap hiasan. Bahkan, bentuknya juga indah seperti tanaman hias pada umumnya. Di halaman rumah Syapna Dara Rona contohnya. Selain len-gkap dengan tanaman hias, di tempat tinggal siswi SMAN 1 Sewon ini juga lengkap dengan tanaman obat keluarga, seperti lidah buaya, jambu dan lainnya.
“Tanaman sih kalo bisa enggak cuma buat hiasan, tapi bisa jadi obat juga. Minimal pas kita sakit bisa dipakai un-tuk pertolongan pertama. Kayak kalo lagi diare pake daun jambu, lidah buaya kalo pas lagi kena panas kenalpot ato kena setrikaan hehe…” tukas DaraUntuk menjaga tanaman, Dara selalu meluangkan waktu sore hari. Kadang kalo terpaksa harus pergi, sang ibunda dimintai tolong untuk backup buat ngerawat tanaman. Dara menjelaskan, cara perawatan yang utama adalah pemupukan, penyinaran dan pengairan. Karena tanaman di rumah seputaran obat dan tanaman hias seder-hana, maka pemupukan cukup dilakukan menggunakan bekas teh dan pupuk be-kas kotoran sapi atau kambing. Selain itu tanaman diletakkan di tempat yang me-miliki cahaya matahari cukup dan juga dilakukan penyiraman secara continue.”Kuncinya cuma pas pemupukan, taruh tempat strategis biar dapet cahaya matahari sama disiram air, walopun cuma simple, tapi ini harus dilakukan terus menerus jangan sampe bosen. Kalo bosen nanti semua tanaman bakal enggak keurus dan mati,” tambahnya.
Sementara Fariza Altruista siswi SMAN 7 Jogja bertaman merupakan hal yang jarang dilakukan. Sesekali bersama keluarga Fauzia menanam tanaman yang bisa dinikmati hasilnya. “Kalo bisa sih nanem-nanem pohon yang ada hasilnya, kayak rambutan, mang-ga yang nanemnya enak, perawatannya juga enggak susah-susah amat. Jadi biar enggak ribet dan nyita waktu cuma ngurusin tanaman tiap hari,” tuturnya.Tak seberuntung lainnya, Flora Febriani siswi SMA Bopkri 1 Jogja ha-rus puas melihat tanaman rumah tetangga yang enggak jauh dari kos-kosannya. Berhubung jadi anak kos, Flora enggak punya cukup lahan un-tukk melakukan aktivitas bertanam.”Halaman kosan udah di semen, mana buka pintu depan juga kamar temen kos, jadi ya cukup ikut menikmati halaman tetangga yang ijo-ijo kalo mau berangkat dan pulang sekolah,” terangnya.Lain halnya bagi Dandi Wibi Triano. Meski halamannya luas tapi siswa SMPN 6 Jogja ini enggan melakukan aktivitas berkebun. Dandi komitmen, enggak ikut merawat tanaman di rumahnya, tapi juga enggak akan merusaknya.”Di rumah sih ada macem-macem tanaman hias, cuma aku sama sekali enggak ikut-ikutan ngerawat. Yang penting aku juga enggak ikut nge-rusak. Jadi biar balance hehe,” ke lakar Dandi. (mey/man/ong)