GUNAWAN/RADAR JOGJA UNTUNG: Salah seorang petani di Karangrejek, Wonosari tengah menyiram tanaman bawang merah miliknya, kemarin (18/3). Harganya yang naik membuat petani merasakan angin segar.
GUNUNGKIDUL – Harga bawang merah di Gunungkidul mulai merangkak naik. Kenaikan tersebut naik nyaris dua kali lipat. Jika dalam beberapa bulan lalu, ditingkat petani mencapai Rp 7.000, sekarang menembus Rp 20 ribu per kilogram.
Salah seorang petani bawang merah di Desa Karangrejek, Wonosari Hartoyo mengatakan, kenaikan harga sudah dirasakan sejak beberapa pekan terakhir. Dia berharap harga jual ditingkat petani terus bertahan dengan harga tinggi. “Sebab kondisi demikian menguntungkan petani kecil seperti saya. Semoga harga bawang merah stabil,” kata Hartoyo saat ditemui di lahan garapannya, kemarin (18/3).
Namun dia mengakui, stok bawang merah milik petani sangat terbatas. Bahkan yang kualitas bagus tidak dijual karena untuk pembibitan. Selama ini, dia menanam bawang merah pada lahan seluas 1.000 meter, dan kemungkinan panen akan dilakukan pada 12 hari ke depan.
“Semula kami menanam bibit bantuan Dinas Pertanian DIJ seberat 15 kilogram dan mampu menghasilkan tiga kuintal,” ucapnya.
Menurutnyaa, kendala petani bawang merah adalah kurangnya pupuk, karena sering hilang di pasaran pada saat masa pemupukan. Namun untuk ketersediaan air, menurut Hartoyo, mencukupi karena ada sumur bor.
Terpisah, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Gunungkidul Azman Latif mengatakan, luas lahan pertanian khususnya bawang merah masih tergolong kecil. Air menjadi faktor utama masyarakat tidak mau menanam bawang merah.
“Dari 42 ribu hektare lahan kering dan 7.000 hektare sawah yang ditanami bawang merah hanya sekitar empat sampai lima hektare. Petani Gunungkidul belum banyak yang tertarik menanam bawang merah,” kata Azman.
Dia menjelaskan, beberapa wilayah yang menanam tanaman bawang merah yakni Karangrejek, Wonosari, Playen dan Plembutan. Azman menilai kurangnya faktor air menjadi penyebab utama petani tidak mau menanam bawang merah. Selain itu, belum meratanya sumur bor membuat petani kesulitan menanam.
“Tanaman bawang merah cocok ditanam dimusim kemarau. Kalau pada musim hujan kebanyakan air,” terangnya.
Saat ini, DTPH masih memfokuskan tanaman pangan sebagai tanaman utama petani. Sebab pemerintah menargetkan swasembada pangan. Sementara tanaman bawang merah belum menjadi fokus uatama. “Saat ini kita fokus padi, jagung, dan kedelai,” terangnya. (gun/ila/mga)