JOGJA – Psikolog UGM Kwartarini Wahyu Yuniarti mengatakan, keputusan aparat penegak hukum menjebloskan pelaku begal usia remaja ke dalam penjara, bukanlah solusi tepat. Sebab, pemberian hukuman dengan memenjarakan para tersangka, tidak akan berpengaruh secara signifikan dalam mengubah perilaku mereka.
“Belum ada bukti keberhasilan hasil dari pembinaan di penjara, yang timbul hanya efek jera saja,” kata Kwartarini, kemarin (18/3).
Menurut Kwartarini, penanganan pelaku begal remaja bisa dilakukan dengan menyalurkan energi positif yang ada pada diri mereka kedalam hal-hal yang positif. Misalnya di bidang olahraga atau pun kemiliteran.
“Para pelaku ini memiliki karakter positif, yakni memiliki keberanian tinggi. Hal ini lah yang sebaiknya ditangkap, karakter positifnya ditangani untuk diarahkan ke hal-hal yang baik, seperti tinju, sepak bola, atau kegiatan militer,” pintanya.
Apabila gagasannya dilakukan, Kwartarini meyakini tidak akan timbul kembali aksi-aksi negatif yang meresahkan masyarakat. “Tidak akan ada waktu lagi untuk berpikiran negative, karena seluruh energi telah difokuskan dalam hal-hal yang baik,” tandasnya.
Untuk menghindari munculnya tindakan negatif remaja, ia meminta kepada para orangtua untuk lebih memperhatikan dan melakukan pengawasan terhadap anaknya. Pasalnya, para remaja ini, berada dalam masa yang tidak stabil dan di fase pencarian jati diri. Sehingga saat anak tidak memperoleh perhatian keluarga, mereka cenderung mencari di luar rumah.
“Mereka mendapatkan informasi yang over load dari kiri-kanan. Ditambah lagi tidak ada pengawasan dari orangtua dan guru, sehingga tindakannya tidak terkontrol,” terangnya.
Kebanyakan remaja bermasalah berasal dari keluarga yang tidak memfasilitasi mereka untuk tumbuh menjadi pribadi yang dapat mengelola dirinya sendiri. Apalagi, lingkungan luar yang tidak mendukung remaja untuk tumbuh menjadi individu yang baik. “Ada kesalahan dalam parenting, sehingga parental education menjadi sangat diperlukan saat ini,” kritiknya. (mar/jko/mga)