HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
BERI DUKUNGAN: Warga WTT saat menggelar aksi unjuk rasa di depan PN Wates untuk memberi dukungan moral terhadap Saridjo Cs, kemarin (18/3).
KULONPROGO – Sidang per-dana kasus penyegelan Balai Desa Glagah, Temon dengan tersangka Saridjo, 63, Wasiyo, 42, Tri Marsu-di, 36, dan Wakidi, 49, di Pengadi-lan Negeri (PN) Wates diwarnai aksi unjuk rasa. Unjuk rasa diikuti kurang lebih 200 warga yang ter-gabung dalam Wahana Tri Tunggal (WTT), kemarin (18/3). Sidang dengan agenda pemba-caan dakwaan dipimpin Hakim Ketua Esther Megaria Sitorus di-dampingi hakim anggota Nanang Herjunanto dan Adhil. Materi dak-waan dibacakan oleh jaksa penuntut umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Wates Dian Natalia dan Hesti Tri Rejeki. Sementara ke empat terdakwa didampingi penasehat hukum dari LBH Jogjakarta.Dalam orasinya, warga WTT menuntut Saridjo Cs dibebaskan sekaligus menolak rencana pembangunan bandara. Selain berorasi, mereka juga memben-tangkan spanduk bertuliskan “Undang-undang Bukan Alat Ke-kuasaan, Hentikan Kriminalisasi!””Sidang berikutnya semakin banyak warga yang akan ikut, ini hanya sebagian saja. Untuk memberi semangat pada Mbah Jo (Sardijo) Cs, kami akan tetap memberi dukungan,” ucap Ketua WTT Martono disela aksi.
Sementara itu, sidang yang di jalani Sardijo dan tiga warga WTT digelar secara terpisah namun berurutan. Hal itu dikarenakan pasal yang didakwakan antara terdakwa Sa-ridjo dan tiga warga WTT lainnya berbeda. Pertama, dihadirkan secara berurutan terdakwa Wasiyo, Tri Marsudi, dan Wakidi dengan didakwa melanggar Pasal 170 KUHP tentang Perusakan. Semen-tara Saridjo menjalani sidang sendiri dengan didakwa melang-gar Pasal 160 KUHP tentang Peng-hasutan. Namun demikian, semua materi dakwaan tetap terkait dengan aksi penyegelan Balai Desa Glagah pada tanggal 30 September 2014 lalu. Penasehat hukum keempat ter-dakwa dari LBH Jogjakarta me-minta waktu sepekan untuk me-nyampaikan eksepsi dan mengaju-kan penangguhan penahanan bagi keempat kliennya.
Sidang akhirnya ditunda dan akan dige-lar kembali Selasa (24/3) menda-tang dengan agenda penyam-paian eksepsi dari para terdakwa. Didampingi penasehat hukumnya, Saridjo sempat menyatakan kebe-ratan dengan dakwaan yang disam-paikan JPU. Ia menilai dalam dak-waan tersebut belum disinggung mengenai kepala desa Glagah yang saat itu melarikan diri, sehingga terjadi kemarahan warga dan terjadi penyegelan balai desa.”Saya sebagai penasehat (WTT) memberi kata jangan anarki, tapi tidak bisa membendung warga dan terjadi itu. Saya bukan mem-provokasi agar warga menyegel balai desa,” katanya. (tom/ila/ong)