HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
PANEN: Petani di Temon, Kulonprogo tengah melakukan proses panen padi, kemarin (19/3). Di sejumlah area pertanian terdapat serangan OPT berupa hama wereng cokelat.
KULONPROGO – Upaya menjaga dan meningkatan produktivitas padi terus dilakukan. Salah satunya dengan melakukan mencegah dan mengen-dalikan organisme penganggu tana-man (OPT). Khususnya hama wereng cokelat yang mematikan. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kulon-progo Bambang Tri Budi, kemarin (19/3). Dijelaskan, posisi terakhir serangan OPT di Kulonprogo ada 11 hektare. Itu tersebar di beberapa wilayah di antaranya di Kecamatan Temon, Panjatan, Wates, Nanggu-lan dan Kalibawang. “Tapi spot-spot, nah harapannya sesuai dengan arahan pemerintah, bagaimana menekan spot ini agar tidak me-luas,” ungkapnya.
Bambang Tri, sapaannya, mengung-kapkan terkait pembangunan per tanian di Kulonprogo khususnya padi telah diatur melalui peraturan bupati (Per-bub) tentang Pola dan Tata Tanam. Yakni musim tanam pertama (MT I) dimulai di bulan Agustus, sementara MT II di bulan November.”Upaya menekan penurunan pro-duksi atau meningkatkan produksi padi yakni dengan pengendalian OPT. Adapun OPT yang paling dominan yakni tikus, disusul wereng cokelat dan wereng punggung putih. Se bagian juga ada yang terserang hama peng-gerek batang,” ungkapnya.Ditambahkan, untuk pengendalian OPT, pemerintah bersama masyara-kat secara serentak bersama melaku-kan pengendalian hayati. “Alhamdu-lillah masyarakat sudah muncul kesadaran melalukan pencegahan atau pengendalian mulai persemaian. Yakni pada usia tanaman dua minggu, hingga usia 35 hari,” terangnya.
Khusus untuk hama wereng cokelat, ternyata bisa berkembang dan me-nyerang sejak persemaian, jadi tidak hanya di masa pertanaman. Kalau dulu pengendalaian memang dimu-lai saat pertanaman, tapi sekarang dimulai sejak persemaian. “Kesada-ran pertani untuk melakukan pen-cegahan mulai persemaian sudah muncul di Kulonprogo,” jelasnya.Menurut Bambang Tri, dalam pengendalian OPT, pemkab juga sudah menerapkan pola tanam Padi-Padi-Palawija. Pola tanam ter-sebut dinilai cukup efektuf untuk menekan serangan hama. Sehingga jika terjadi serangan OPT sejauh ini bisa dikatakan masih dalam batas toleransi. (tom/ila/ong)