ilustrasi
IMOGIRI – Ruas jalan di kampung Kedung-miri, Pedukuhan Wunut, Sriharjo, Imogiri te-rancam putus. Hingga kemarin (19/3) ambrol-nya ruas jalan akibat longsornya tebing Sung-ai Oyo tersebut belum mendapatkan penanga-nan. “Sejauh ini sudah longsor dua kali,” terang Kepala Dukuh Wunut Sugiyanto.Longsor pertama terjadi pada Januari lalu. Kemudian longsor kedua yang mengakibatkan ruas jalan kian terkikis terjadi pada Jumat (13/3) lalu. Menurutnya, ruas jalan tersebut selama ini menjadi akses utama mobilitas bagi 70 kepala keluarga (KK) yang tinggal berada di Pedukuhan Wunut sebelah timur. “Ini jalan kampung yang biasa digunakan warga Wunut,” ujarnya.Usai longsor kedua warga sudah berusaha melapor ke Badan Penanggulangan Ben-cana Daerah (BPBD).
Meskipun sebenarnya, penanganan longsornya tebing ini sebenar-nya merupakan tanggungjawab Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak.Karena belum ada penanganan, warga hanya memasang pembatas dari bambu. Ini dengan harapan sebagai tanda peringa-tan bagi warga saat melintas. “Ketinggian tebing sekitar 7,5 meter,” ungkapnya.Agar kerusakan tidak semakin parah, Sugi-yanto juga meminta kendaraan roda empat tidak melintas di ruas jalan tersebut. Toh, im-bauan ini juga demi keselamatan pengendara roda empat karena tebing Sungai Oya tersebut cukup tinggi.”Yang boleh lewat pejalan kaki dan sepeda motor,” tegasnya.
Sebagai pamong, Sugiyanto berharap pi-hak terkait segera mengambil tindakan. Sebab, jika dibiarkan tak tertutup kemung-kinan akses jalan tersebut bakal putus. Aki-batnya, 70 KK bakal terisolasi. “Jalur lain memang ada. Tapi memutar jauh hingga Selopamioro,” sebutnya. Anggota Komisi A DPRD Bantul Nur Laili Maharani menyatakan, komisi A pernah mela-kukan inspeksi mendadak ke lokasi longsor. Dari hasil sidak, komisi yang membidangi kebencanaan ini lantas menyarankan agar pihak terkait melakukan penanganan dengan membuat bronjong. (zam/din/ong)