SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA
KENA BATUNYA : Satuan Reserse Narkoba Polres Sleman mengungkap kasus penyalahgunaan obat psikotropika kemarin (19/3).
SLEMAN- Petugas apotek seharusnya lebih hati-hati melayani konsumen yang membeli obat penenang, khususnya obat jenisRi clona Clonazepan dan Alprazolam. Itu kare-na keduanya tergolong psikotropika.Kewaspadaan ini terutama jika konsumen membeli dalam jumlah banyak. Meskipun kon-sumen membawa resep dokter, polisi menenga-rai resep-resep itu palsu. Atau setidaknya, pasien hanya berpura-pura mengeluh sakit lalu me-minta dokter membuatkan resep untuk mem-beli obat penenang di apotek.Dugaan polisi terbukti.
Kemarin (19/3), jajaran Satuan Reserse Narkoba Polres Sleman mengung-kap kasus penyalahgunaan obat psikotropika. Delapan tersangka diringkus berikut barang buk-tinya. Mereka tertangkap tangan membawa nar-koba jenis pil penenang (koplo) dalam belasan paket. Total ada 900 butir. “Semua barang bukti diperoleh para pelaku dengan modus sama,” kata Wakapolres Sleman Kompol M Faizal.Meskipun bukan modus baru, Faizal men-duga ada indikasi pengalihan penyalahgunaan narkoba ke psikotropika. Sebab, selain murah, psikotropika termasuk produk yang relatif mu-dah diproleh di apotek. “Risikonya lebih kecil dari narkoba. Tetapi kualitasnya hampir sama dengan narkotika,” lanjutnya.Faisal memaparkan, para tersangka mempe-roleh resep dari dokter langganan. Resep ditu-kar dengan psikotropika di apotek. Sekali tran-saksi mencapai ratusan butir.
Sebagian obat dikonsumsi sendiri. Sisanya lantas dijual lagi kepada orang lain seharga Rp 10 ribu sampai Rp 20 ribu per butir. “Sesuai keterangan ter-sangka, resep diperoleh dari dokter yang buka praktik di Solo. Apoteknya juga di sana,” beber perwira menengah Polri itu.Kasat Resnarkoba AKP Anggaito Hadi Prabowo menambahkan, untuk memproleh obat pene-nang, para tersangka harus merogoh kocek dulu. Sedikitnya, Rp 300 ribu untuk ongkos pe-riksa dan minta resep dokter. Di apotek, mereka harus merogoh saku lagi hingga Rp 500 ribu untuk 150 butir pil.”Itu sesuai keterangan ter-sangka Devi Aryanto,” tuturnya. (yog/din/ong)