HERU PRATOMO/RADAR JOGJA
TRADISI JELANG PANEN: Wakil Wali Kota Jogja Imam Priyono saat menghadiri acara wiwitan di Kampung Wisata Agro Edukasi Rejowinangun, Kotagede, kemarin (19/3).

Agar Kembali Dikenal, Datangkan Anak Sekolah

Sepadat-padatnya Kota Jogja, ternyata masih ada lahan pertanian. Sedikitnya, masih menyisakan 64 hektare persawahan yang saat ini ditanami padi. Lahan pertanian tersebut, telah siap dipanen. Rencana panen raya, telah ditandai dengan wiwit pari, kemarin (19/3)
HERU PRATOMO, Jogja
WIWIT pari (wiwitan), adalah upacara tradisi yang dulunya turun temurun dila-kukan keluarga petani. Wiwit dilakukan menjelang musim panen atau di awal mu-sim panen padi. Makna dari tradisi wiwit, sejatinya adalah panjatan doa dan ungkapan syukur atas limpahan hasil panen dari Yang Maha Ku-asa. Di Jogja dan sekitarnya, upacara tra-disi wiwit yang sebelumnya sempat nyaris hilang tergerus zaman, kini mulai bangkit kembali. Hal itu seperti yang dilakukan petani di kampung wisata agro edukasi Rejowinangun, Kotagede, Jogja, kemarin (19/3). Mema-suki musim panen, petani di daerah terse-but melakukan ritual wiwit pari. Sekalipun tata cara dan ubo rampe (perlengkapan) wiwit tidak lagi seragam seperti dulu, namun hal-hal pokok dalam ritual wiwit tetap dila-kukan warga di sana.Prosesi wiwit pari daiawali dengan per-mainan gejog lesung yang dimainkan ibu-ibu warga Rejowinangun. Tak berselang lama, Wakil Wali Kota Jogja Imam Priyono (IP) tiba di kampung wisata agro edukasi tersebut
Selain itu, tampak pula berba-gai hasil bumi, berupa buah-buahan, nasi liwet lengkap dengan sambal dan lalapan, gereh petek (ikan asin), sayur kluwih, urap atau kluban, pelas, telur, tempe tahu goreng, dan peyek. Setelah dibacakan doa, ubo rampe ter-sebut dibagikan dan disantap bersama seluruh warga di seki-tar sawah. Ketua Kampung Wisata Agro Edukasi Rejowinangun Agus Budi Santoso menjelaskan, tradisi wiwitan pari merupakan wujud rasa syukur para pe-tani. Terlebih beras merupakan kebutuhan pokok, sehingga nilainya begitu berharga. “Bi-sa menanam bibit sampai pa-nen adalah suatu yang luar biasa, sehingga wajib disyu-kuri, karena itu saat memetik pertama, wajib diupacarai,” kata Agus.Diakuinya, saat ini sudah makin jarang ditemui pelak-sanaan upacara wiwit pari, terutama di wilayah Kota Jog-ja. Untuk itu, pihaknya ingin kembali memperkenalkan bu-daya adiluhung Jawa tersebut, agar tidak hilang dan dilupa-kan masyarakat. Tradisi wiwit pari di Rejo-winangun, sudah kedua kalinya digelar. Dirinya berharap paling tidak dalam setahun bisa meng-gelar wiwit pari dua hingga tiga kali saat panen. “Kami juga mengajak anak-anak sekolah supaya mereka tahu budaya wiwit pari ini,” terangnya.
Menurut dia, di wilayah Rejo-winangun, termasuk yang me-miliki lahan pertanian terluas di Kota Jogja. Varietas padi yang ditanam di perswahan Rejo-winangun termasuk varietas padi unggulan, IR 64.Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Per-tanian (Diperindagkoptan) Kota Jogja Suyana mengatakan, di wilayah Kota Jogja, berdasar-kan pendataan terakhir, luas areal lahan pertaniannya men-capai 64 hektare. Dari jumlah luasan tersebut, saat ini sudah sekitar 14 hek-tare lahan persawahan yang panen dengan rata-rata tiap hektare sawah mampu mengha-silkan 6,3 ton gabah kering panen. “Meskipun hanya kecil luasan-nya, hasil yang didapat tergolong bagus,” ungkapnya.Suyana menjelaskan, hasil per-tanian di Kota Jogja, selain untuk konsumsi sendiri, juga ditebaskan untuk dijual. “Tidak sampai ma-suk Bulog, karena hasilnya yang relatif kecil,” lanjutnya.
Suyana menambahkan, seba-gian besar sawah di Kota Jogja dialiri air dari saluran irigasi, seperti yang di wilayah Bener Tegalrejo. Tapi untuk sawah yang berada di wilayah Rejowinangun tersebut, merupakan sawah ta-dah hujan. Pemkot Jogja juga memberikan insentif kepada para pemilik lahan sawah, ber-upa keringanan pembayaran PBB. “Insentif khusus yang di-berikan terkait dengan PBB,” tuturnya.Wakil Wali Kota Jogja IP juga mengaku sudah meminta supaya para pemilik lahan pertanian di Kota Jogja mendapatkan ke-ringana dalam pembayaran PBB. Sebab, hasil yang didapat dari pertanian, kadang tidak sesuai dengan nilai PBB yang dibayar-kan. “Ini juga bagian dari keber-pihakan Pemkot Jogja pada petani,” jelasnya.IP juga akan mengkomunika-sikan perihal kebijakan pem-buatan regulasi penetapan lahan pertanian di Kota Jogja, untuk menghindari alih fungsi lahan menjadi areal bukan pertanian. “Harapanya, nanti ada regu-lasi, entah dengan perwal atau apa, untuk menjamin lahan pertanian di Kota Jogja tetap ada,” ujarnya.Menurut dia, sebenarnya Pemkot Jogja juga memiliki keberpihakan pada pertanian dengan memiliki khusus lahan sawah di Bener. IP juga me-minta supaya tradisi wiwit pari ini bisa terus dilangsung-kan, karena merupakan bagian dari budaya agraris. “Tradisi yang baik ini harus terus di-pertahankan supaya tidak dilu-pakan,” ujarnya. (*/jko/ong)