ilustrasi
GUNUNGKIDUL – Pemkab Gunungkidul dibuat bingung dengan sikap nelayan lokal. Pasalnya, tawaran bantuan berupa kapal penangkap ikan dari pemerintah ditanggapi dingin, bahkan diantara ne-layan terang-terangan menolak. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Gunungkidul Agus Pri-yanto. Dia menyayangkan sikap nelayan yang tak merespons bantuan kapal senilai ratusan juta rupiah dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. “Padahal bantuan kapal di atas sepuluh gross ton (GT) ini telah disosialisasikan kepada seluruh nelayan. Sayangnya peluang tersebut tidak direspons,” tandas Agus, kemarin (19/3).
Dia menjelaskan, tawaran bantuan tersebut sudah disam-paikan mulai dari nelayan di Pantai Gesing hingga Sadeng. Jika gayung bersambut, maka akan segera diproses untuk diajukan ke pusat.”Terlebih, bantuan kapal di-khususkan untuk nelayan lokal asli Gunungkidul saja. Namun nyatanya, saat ditawari mereka tidak mau,” ungkap Mantan Kepala Satpol PP itu.Menurutnya, program ban-tuan kapal diberikan dengan harapan agar bisa menyejah-terakan kehidupan nelayan. Dengan kapal ukuran di atas sepuluh GT, nelayan memiliki daya jelajah penangkapan lebih luas. Dengan begitu peluang mendapatkan ikan akan lebih besar lagi.”Kami tidak tahu permasala-hannya seperti apa? Padahal kalau bisa melaut dengan jarak 25 mil ke atas, potensi ikannya sangat melimpah. Jenis tangka-pannya pun bervariasi, mulai dari tongkol, tuna, cakalang dan masih banyak ikan yang lain,” bebernya.
Sementara itu, Ketua Himpu-nan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul Rujiman-to ketika dikonfirmasi menga-ku tertarik dengan program ter sebut. Namun demikian, yang menjadi persoalan adalah akses pelabuhan. “Pelabuhan yang ada sekarang ada di Sadeng. Coba kalau posisinya di tengah-tengan mi-salnya Baron, tanpa pikir panjang saya ambil bantuan tersebut. Tapi kalau pelabuhannya masih di Sadeng, tentunya kami harus berpikir ulang,” kata Rujimanto.Kenapa demikian? Dia bera-lasan, untuk sampai di Pelabu-han Sadeng membutuhkan waktu lama, mengingat jarak cukup jauh. Otomatis situasi demikian berpengaruh terhadap biaya operasional nelayan. Permasalahan lain yang mem-buat kapal itu urung diterima karena nelayan harus melakukan adaptasi. Terlebih lagi, peralatan yang ada juga merupakan barang baru, sehingga membutuhkan waktu untuk pembelajaran. ” Paling penting adalah menga-sah kemampuan nelayan untuk menjadi pelaut ulung. Sebab, saya akui nenek moyang kami bukan seorang pelaut, tapi petani,” ucapnya. (gun/ila/ong)