ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
BUTUH PENDAMPINGAN: Sihabudin Sulaiman (kiri) saat mengadu peristiwa pemerkosaan. Ia minta bantuan pendampingan LSM Sahabat Perempuan di Desa Gulon, Kecamatan Salam, kemarin (19/3).
MUNGKID – Seorang siswa kelas VII di salah satu MTs di Kecamatan Tegalrejo hanya diam merenung di dalam rumahnya, dalam beberapa minggu terakhir. Ini dilakukan gadis belia Bunga (bukan nama sebenarnya). Perempuan ber usia 13 tahun ini jadi korban pe-merkosaan kakak kelasnya di perkebunan Desa Dawung, Ke-camatan Tegalrejo awal bulan lalu. Kini, ia tidak berani keluar rumah pascakejadian.Peristiwa bermula saat Bunga mengikuti kegiatan olahraga di sekolah pada Minggu (8/3)
Saat perjalanan pulang, ia di-buntuti tiga anak yang meru pakan teman sekolahnya. Saat tiba di perkebunan yang sepi, ketiganya mencoba mengerudungi ke-pala Bunga dengan sarung. “Korban waktu itu diperkosa dan mengalami pingsan, karena ditutupi dengan sarung. Usai kejadian korban ditinggal sen-dirian,” ungkap Sihabudin Su-laiman, kerabat korban saat mengadu peristiwa perkosaan ke Sekretariat Lembaga Swadaya Masyarakat Sahabat Perempuan di Desa Gulon, Kecamatan Salam, kemarin (19/3).Sihabudin memaparkan, pascaperkosaan, pihak keluarga dan pelaku sudah melakukan mediasi. Intinya, pada mediasi yang digelar selang sehari pascakejadian, keluarga pelaku siap bertanggung jawab. Yakni menikahi korban dengan satu pelaku utama, setelah selesai sekolah. “Keluarga pelaku sepakat akan menikahi korban dan mem biayai sekolah hingga selesai di Mts. Namun, pernikahan tersebut hanya sebatas formalitas dan korban akan diceraikan kem-bali. Hingga hari ini, kese pakatan yang dibuat tidak ada tindak lanjut,” jelasnya.
Mediasi antara keluarga korban dan pelaku dilakukan dua kali di Kepolisian Sektor Tegalrejo dan sekitar lokasi kejadian. Saat mediasi, diketahui pelaku terdiri dari tiga orang. Dua di antaranya merupakan kakak kelas korban. Sementara satu pelaku siswa Mts lain. Dua pelaku H dan A diketahui hanya menjaga lokasi saat pemerkosaan. Sementara pelaku utama adalah Y, kakak kelas kor-ban di sekolah yang sama. Rata-rata usia mereka berkisar 14 tahun. Kasus itu sudah dilaporkan ke Polsek Tegalrejo. Ia berharap selain ditangani kepolisian, LSM Sahabat Perempuan ikut men-dampingi kasus yang menimpa salah satu keluarganya. Karena, pascakejadian korban merasa malu dan tidak mau keluar rumah.”Setiap hari dijenguk oleh teman-temanya. Kami berharap, ini diproses sesuai hukum yang berlaku,” pintanya.
Ketua LSM Sahabat Perem-puan Wariyatun mengaku, menerima pengaduan dari pihak keluarga korban dan segera me-nindak lanjuti. Pihaknya akan mendampingi korban, hingga proses hukum selesai dilakukan.”Kami harus hati- hati dalam mengawal dan mendampingi kasus ini. Mengingat dalam peraturan yang baru, ada ta hapan diversi atau mediasi antara korban dan pelaku. Jangan sampai diversi ini mengorbankan hak korban,” jelasnya.Ia menyebut, ada tiga hak korban yang harus dipenuhi negara. Yakni hak atas kebenaran, ke-adilan, dan pemulihan (sosial, psiko sosial, dan tidak boleh dikeluarkan dari sekolah).Kapolsek Tegalrejo AKP Rinto mengakui pihaknya sudah me-nerima laporan adanya kasus pemerkosaan yang melibatkan siswa sebuah Mts di Tegalrejo. Hingga kini, kasus itu dilim-pahkan ke Unit Pelayanan Pe-rempuan dan Anak (PPA) Polres Magelang. (ady/hes/ong)