JOGJA – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, hari ini (20/3) mempe-ringati hari jadi yang ke-268. Peringatan yang sebenarnya menggunakan tang-galan Jawa pada 29 Jumadil Awal 1948 ini, tentu kaya akan kisah-kisah perjalanan dari Nagari Mataram Jogja. Sebagaimana biasanya, dalam kesem-patan ini, Raja Keraton Sri Sultan Ha-mengku Buwono X akan mengeluarkan amanat kekinian.Penghageng Tepas Dwarapura KRT Jatiningrat mengatakan, peringatakan ini memiliki kisah yang panjang. Ini terlihat dari penggunaan gending ga-melan yang mengiringi.”Pada masa HB VIII, ada adat yang baru dari raja-raja sebelumnya,” terang cucu HB VIII ini.
Ia menceritakan, saat itu, sang kakek menambahi gending gamelan yang mengiringi. Yaitu dengan gending Rojo Mataram dan Rojo Menggolo. “Kedua gending ini diciptakan HB VIII, karena perlawanannya terhadap Belanda. Sebab, saat itu, setiap raja akan siniwoko, juga dibunyikan lagu penghormatan kepada Kerajaan Belanda,” tuturnya.Hal tersebut membuat HB VIII menyu-sun strategi. HB VIII yang tak rela harga diri Mataram diinjak-injak penjajah Belanda, menciptakan kedua gending baru. “Sebelumnya, hanya gending Ga-jah Indro saja,” lanjutnya.Selain bentuk perlawanan, di setiap peringatan Hadeging Nagari Ngayo-gyakarta Hadiningrat ini juga selalu ada amanah dari raja yang bertakhta. Seperti tahun lalu, seakan mengukuh-kan sebagai Kerajaan Islam, HB X mem-berikan amanah dengan tema kekha-lifahan Jawi.Itu juga bentuk dari gelar Raja Mataram Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kangjeng Sultan Hamengku Buwana Senapati-ing-Ngalaga Abdur-rahman Sayidin Panatagama Khalifatul-lah ingkang Jumeneng Kaping Sadasa ing Ngayogyakarta Hadiningrat. ” Tema tahun lalu, cerminan dari Kerajaan Ma-taram Islam,” sambung dia.
Amanat HB X dengan tema Kekha-lifahan Jawi tersebut, di antaranya berisikan akan terus menjadi piwulang agung. Sesuai dengan leluhur, kasul-tanan Demak, Pajang, dan negara Mataram, Nagari Ngayogyakarta akan menjaga keberagaman yang menyatu dengan riak budaya. Sehingga Islam dapat dilaksanakan tanpa konflik, sejuk, rukun, hormat, toleran dan berunggah-ungguh. Itulah agama yang rahmatan lil ‘alamin.Untuk tema tahun ini (2015), Romo Tirun mengaku belum mengetahui. Itu menjadi wewenang dari HB X. Yang jelas, kata dia, biasanya HB X akan mem-berikan amanat dengan tema-tema yang sesuai dengan kondisi kekinian. Lalu apakah HB X akan mengeluarkan amanat terkait dengan polemik pengisian jabatan gubernur dan wagub yang saat ini masih memanas? “Bisa jadi juga berkaitan dengan sabdo tomo. Tapi sebaiknya kita tunggu saja,” terangnya.(eri/jko/ong)