DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
PRESTASI: Agustin Dita Maharani membuktikan, keseriusannya menekuni olahraga dansa telah membawanya meraih banyak prestasi

Bangga Bisa Harumkan Nama Jogjakarta dan Indonesia

Darah pedansa mengalir dalam diri Agustin Dita Maharani. Berawal dari mengikuti jejak sang ibu, kini Dita sudah mendulang berbagai prestasi di berbagai level. Siapa dia?
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
PRESTASI Dita diukir baik di skala lokal, regional maupun internasional. Sejumlah medali sudah dikoleksi. Namun, dia masih menyimpan mimpi. Yakni mempopulerkan dansa sebagai olahraga yang dapat membang-gakan bangsa ini.Tak seperti biasanya, seminggu tiga kali Dita rutin berlatih di Yud’s Ballroom. Namun kali Dita harus absen dan fokus pada pen-didikan. Sebab, siswa kelas 3 SMP di Joannes Bosco sama seperti pelajar lainnya yang akan menghadapi ujian nasional.
Bagi atlet kelahiran, Jogjakarta 6 Agustus 1999 ini pendidikan tetaplah penting. Karena keduanya kini sama-sama jadi fokus yang harus dia jalani dengan seimbang.”Dari dansa aku dapat medali dan sertifikat, dari sertifikat itu aku juga jadi bisa dapat beasiswa dari sekolah,”ujar Dita yang kini tengah mengikuti persiapan pra-PON.Jelas atas prestasinya ini membuat dia bangga. Prestasinya di lantai dansa mem-buktikan bahwa olahraga yang digeluti-nya juga bisa memberikan nilai positif pada bidang pendidikan. Beasiswa yang didapat secara tidak langsung juga me-ringankan orangtuanya dalam hal biaya pendidikan.Dansa memang dikenalnya dari sosok sang ibu, karena ibunya juga merupakan pedansa. Usianya masih sangat muda saat pertama kali dirinya menyentuh lantai dansa, saat itu dia masih kelas 3 SD. “Sem-pat ikut balet, tetapi nggak ada passion. Aku lebih menikmati dansa,”ujar gadis penyuka jogging dan renang ini.
Berbagai kejuaraan baik tingkat pro-pinsi, nasional bahkan internasional pernah diikuti. Bahkan, dia pun menoreh prestasi yang membanggakan. Kejua-raan yang paling tidak bisa dia lupakan yakni waktu pertama kali ikut kejuaraan internasional. Pada kejuaraan 1rd Sura-baya International di Surabaya (2009), Dita langsung meraih prestasi tertinggi dengan mendapatkan emas.”Pertama kalinya jadi juara satu, aku nggak nyangka banget. Karena waktu itu ada pe-serta dari Jogja yang levelnya satu tingkat di atasku. Aku menangis bangga,”ujarnya yang juga pernah meraih emas di 2nd Singapore International di Singapura.
Setidaknya, dalam setahun Dita meng ikuti lima hingga enam kejuaraan. Baik di dalam negeri maupun luar negeri. Seperti Crystal Dance di Malaysia, UKA Cup International Dance di Singapura, Safiel Dancesport di Jakarta, Kejurnas dan sebagainya. Meskipun sekarang masih di kelas atlet junior, namun Dita tetap ingin berproses, mengikuti berbagai kejuaraan dan men-dulang prestasi yang membanggakan orangtua, Jogja dan Indonesia.”Dansa memang belum populer se bagai olahraga. Tetapi dari dansa pun kita bisa membawa harum nama Jogja dan Indonesia hingga ke tingkat inter-nasional,”ujarnya. (*/din/ong)