JOGJA – Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar bisa dijadikan momentum peningka-tan komoditas ekspor di DIJ. Apalagi bahan baku untuk komoditas ekspor DIJ seperti kerajinan tangan dan mebel, tidak banyak bergantung pada bahan baku impor.Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIJ Arief Budi Santoso mengatakan, mele-mahnya nilai rupiah menjadi keuntungan bagi para pelaku ekspor. Pasalnya, nilai dolar saat ini sedang tinggi. “Untuk sektor perajin tidak terlalu terpengaruh. Karena bahan baku yang ada hanya didatangkan dari daerah lain,” jelas Arief kemarin 20/3).Di sisi lain, Arief mengatakan, mele-mahnya rupiah terhadap dolar menim-bulkan tekanan terhadap sejumlah bahan baku komoditas seperti pakan ternak ayam dan konsentrat sapi
Hal ini mendorong harga telur dan daging ayam naik. Dijelaskan, harga komoditas bahan pokok makanan dimungkinkan naik akibat dolar menguat, tetapi dam-paknya untuk inflasi belum tentu. Sehingga yang harus di-jaga saat ini adalah stabilitas perekonomian nasional karena harus menghindari spekulasi.”Spekulan tidak suka kalau kondisinya stabil. Pemerintah sudah mengeluarkan paket-paket kebijakan ekonomi dan tidak mungkin di lepas begitu saja,” jelasnya.Ketua III Tim Pengendali In-flasi Daerah (TPID) DIJ ini men-jelaskan, penguatan dolar terhadap rupiah disebabkan wait and see kenaikan suku bunga Bank Sen-tral AS The Fed. Meskipun dolar makin menguat, perekonomian Indonesia masih kuat di mana inflasi masih terjaga dan cadangan devisa masih kuat.Menurut Arief, melemahnya nilai rupiah tidak memberikan dampak negatif terlalu besar untuk perekonomian di DIJ.
Pasalnya, perekonomian DIJ selama ini ditopang oleh sektor pariwisata, pertanian dan industri olahan.”Pada sektor pariwisata dan pertanian dampak kenaikan dolar masih bisa dikendalikan, sedangkan industri olahan yang menggunakan bahan impor, maka harga bahan bakunya naik,” katanya.Menurut Arief, guna menyi-kapi kenaikan bahan baku impor ini, pelaku usaha tidak perlu me-naikkan harga produk. Mereka hanya perlu mengurangi kuanti-tas dari produknya. Bila pengu-saha menaikan produk, dikha-watirkan para pelanggan mening-galkan produk tersebut. “Pengu-saha menaikkan harga produk bila penguatan dolar terhadap rupiah terjadi dalam jangka waktu yang cukup lama,” jelasnya.
Arief menyebut, kenaikan bahan baku impor dirasakan oleh para pengusaha batik, di mana zat kimia pewarna banyak didatang-kan dari luar. Untuk menyiasati, pelaku usaha dapat mengguna-kan bahan pewarna alami yang berasal dari dalam negeri. “Kenaikan harga masih ditahan dengan cara mengurangi volume produk. Ini dilakukan untuk mene-kan naiknya biaya operasional dan bahan bakunya,” jelasnya.Terpisah, Kepala Perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIJ Dany Surya Sinaga menga-takan, kenaikan dolar terhadap rupiah belum berdampak pada lembaga keuangan di DIJ. Ini dikarenakan penopang dari lem-baga kuangan di DIJ banyak didukung sektor UKM.”Belum banyak terlihat dampaknya. Sebab lembaga keuangan di DIJ banyak ditopang oleh lembaga keuangan mikro yang menyasar kalangan bawah,” terang Dany. (bhn/laz/ong)