YOGI ISTI PUJIAJI/RADAR JOGJA
ADU GESIT: Dengan mengenakan busana tradisional, para siswa MTsN Maguwoharjo ini bermain gobak sodor di halaman sekolah kemarin (20/3).
SLEMAN- Meriah. Itulah kesan pertama ketika memasuki pintu gerbang sekolah di lingkungan pedesaan ini. Jerit tawa suporter bersahutan untuk mendukung tim masing-masing kelas. Jenis olahraganya adalah gobak sodor. Olahraga tradisional ini hampir punah lantaran jarang dimainkan.Nah, dalam rangka peringatan hari jadi Ngayogyakarta itulah, pihak sekolah MTsN Maguwoharjo menggelar permainan jadul yang bernuansa Jawa. Untuk bermain ini, dibagi menjadi dua tim. Satu tim bias erdiri atas empat atau lima orang yang bertugas sebagai penjaga. Untuk memenangkan pertandingan, tim lainnya harus berhasil menembus penjagaan tim lawan, mulai start hingga finis di garis awal.
Dengan catatan, tim penerobos tak tersentuh tubuhnya oleh para penjaga. Jika tersentuh maka, penjagalah pemenangnya. Mereka pun harus gesit dan cekatan. Tapi, bagaimana bisa gesit jika anggota tim adalah para siswi berbusana adat Jawa. Berkebaya dan berkain jarik. Tak sedikit dari mereka terguling karena langkah kaki terjerat kain. “Wah, piye ki, raiso mlayu (bagaimana ini, nggak bisa lari,” ungkap Rizki Utami, salah seorang peserta.Siswi kelas 9 itu mengaku ribet dengan kain jarik karena tak bisa bebas melangkah. Namun, ada kebanggaan tersendiri bagi Rizki mengenakan kebaya khas Jawa. Sebelumnya, itu tak pernah dilakukannya, kecuali dalam peringatan Hari Kartini. Rizki pun mengaku kesulitan berbahasa Jawa dengan baik dan benar. Terbukti, saat diwawancarai Radar Jogja, Rizki justru sering balik bertanya tentang arti kata yang ingin disampaikannya. Gadis belasan tahun itu baru ngeh setelah berdiskusi dengan salah seorang guru. “Oh, nglestantunaken (melestarikan),” lanjutnya sambil tersipu.
Kepala Sekolah MTsN Maguwoharjo Ma’mur Amprani menyadari degradasi adat budaya Jawa di zaman modern. Untuk itulah, momen ini dimanfaatkan untuk total nguri-nguri budaya Jawa. Selama seharian, para siswa dan guru dibebaskan dari pelajaran kelas. Guru, siswa, dan karyawan sekolah di-wajibkan mengenakan pakaian adat Jawa. Komunikasi pun dengan bahasa Jawa, baik dalam upacara maupun lomba dan per-cakapan biasa. “Kita semua punya tanggung jawab. Jangan sampai kebudayaan luntur karena kemajuan teknologi,” ujarnya.Untuk berbagi mengenalkan budaya Jawa, sebanyak 370 siswa karnaval keliling kampung. Ajang ini sekaligus mengedukasi siswa untuk peduli lingkungan. Di perjalanan, para siswa diwajibkan memungut sampah yang tak pada tempatnya. Sekembali di sekolah, barulah para siswa terlibat berbagai lomba dengan tetap berbusana Jawa. Selain gobak sodor, siswa disuguhi permainan lainnya. Yakni sonda mandah. Permainan melompati kotak-kotak menggunakan satu kaki, serta lomba menggulung stagen. (yog/din/ong)