ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
ALAMI: Petani di Parangtritis, Kretek menjemur hasil panen mereka di hamparan pasir. Mereka banyak yang tidak menjual ke pasaran, karena takut justru tidak bisa membelinya kembali.
KRETEK – Melambungnya harga beras membuat resah petani. Bahkan, banyak yang lebih memilih menyimpan beras hasil panen untuk dikonsumsi sendiri daripada dijual ke pasaran. “Kalau kami jual, nanti malah tidak bisa beli untuk konsumsi sehari-hari,” kata Mujiyem, seorang petani di Parangtritis, Kretek kemarin (20/3).Sikap serupa juga dilakukan petani-petani lain. Mereka lebih memilih menyimpan hasil panennya untuk konsumsi keluarga selama satu tahun lantaran hanya menanam padi setahun sekali. Selebihnya, para petani di daerah ini memanfaatkan lahan mereka untuk menanam bawang merah.Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul Sulistiyanto tidak bisa berbuat banyak jika sebagian petani memilih menyimpan hasil panennya sendiri.
Ia menjamin, keputusan itu tidak akan mempengaruhi jumlah stok beras di pasaran mengingat banyak petani yang sedang panen saat ini dan menjuanya ke pasaran. “Saat ini pasokan beras di pasaran sudah mencapai 100 ton per hari, jauh melebihi kebutuhan Bantul yang hanya 70 ton per hari. Kemarin waktu harganya mahal, pasokan beras memang terbatas, yakni hanya 50 ton per hari,” kata Sulis.Kepala Perum Bulog Divisi Regional (Divre) DIJ Langgeng Wisnu Adinugroho menyatakan, harga pembelian pemerintah (HPP) beras secara resmi dinaikkan dari Rp 6.600 menjadi Rp 7.300. Ini dilakukan guna memecahkan persoalan penghimpunan beras dari petani oleh Perum Bulog. “Dengan HPP beras yang lama petani enggan melepas beras mereka di bawah harga pasaran,” kata Langgeng.
Dengan harga beras baru yang mendekati harga pasaran diharapkan penyerapan beras oleh Perum Bulog bisa lebih maksimal. Itu karena harga pasaran saat ini masih berada pada level Rp 9.500 hingga Rp 10.200 per kilogram. Sedangkan di tingkat petani berkisar Rp 7.500 per kilogram.Perubahan harga HPP ini sesuai Inpres No 5/ 2015 tentang Kebijakan Pengadaan dan Penyaluran Gabah/Beras oleh Pemerintah, termasuk perubahan HPP gabah kering panen (GKG) dari Rp 3.300 menjadi Rp 3.700, dan gabah kering giling (GKG) dari Rp 4.200 menjadi Rp 4.650.HPP beras dan gabah tersebut, sambung Langgeng telah ditetapkan pada 17 Maret 2015 lalu. Sehingga, efektif per tanggal tersebut Bulog bisa menyerap beras maupun gabah dari petani lokal. “Kami baru bisa menyerap beras maupun gabah dari petani Senin mendatang (23/3) mendatang. Satgas juga sudah dikerahkan untuk mulai menyerap beras pertani,” ujar Langgeng.
Langgeng berharap, dengan revisi harga sesuai pasar target penyerapan sebesar 7.100 ton pada 2015 ini bisa tercapai. Sebab Bulog DIJ juga melakukan sosialisasi dengan mitra kerja, Gapoktan dan penggilangan untuk menghimpun beras sesuai dengan HPP yang baru.Selanjutnya diharapkan operasi pasar murni (OPM) bisa dihentikan supaya tidak terjadi aksi borong masyarakat. Untuk melakukan penghentian OPM, pihaknya akan melakukan lobi kepada pemkab/pemkot. (zam/bhn/din/ong)