GUNTUR AGA TIRTANA/RADAR JOGJA
JELANG NYEPI: Prosesi Upacara Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan, kemarin pagi (20/3). Sorenya, pawai ogoh-ogoh digelar di Jalan Malioboro, Jogja.
SLEMAN – Upacara Tawur Agung Kesanga menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1937 di Candi Prambanan kemarin (20/3) dihadiri ribuan umat Hindu. Upa-cara yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi ini berjalan khusyuk. Se-rangkaian seremonial pun dilakukan sejak pagi hari hingga upacara selesai
Rangkaian upacara diawali dengan Mendak Tirta di area Candi Prambanan. Dalam kesem-patan ini diarak gunungan dan ogoh-ogoh dari lapangan menu-ju kawasan candi. Setiba di sana, puluhan umat dan pemuka aga-ma Hindu lantas memutari Can-di Siwa sebanyak tiga kali.”Prosesi lalu berlanjut dengan kembali menuju lapangan Candi Prambanan. Dalam Tawur Agung ini juga digelar upacara Bhuta Yadnya,” kata Ketua Parisada Hindu Dharma DIJ Ida Bagus Agung di sela acara.Ida Bagus menuturkan, tujuan upacara ini untuk mengamalkan Tri Hita Karana.
Maknanya adalah menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, hubungan harmonis antara ma-nusia dan alam, serta hubungan harmonis antara sesama manusia.Bhuta Yadnya sendiri bermak-na mengembalikan dan meles-tarikan. Upacara ini memiliki makna menumbuhkan ke-seimbangan antara manusia dengan alam. Keseimbangan ini penting karena setiap harinya manusia mengambil sumber alam.”Terkandung dalam Lontar Agastya Parwa disebutkan Bhuta Yadnya ngarania taur muang la-pisan ring tuwuh. Maknanya ha-kikatnya manusia setelah mengam-bil seharusnya mengembalikan agar alam tetap lestari,” ungkapnya.
Hal ini, lanjutnya, sesuai dengan tema Perayaan Nyepi tahun ini Membangun Harmoni Kesada-ran Ritual dan Budaya Nasional. Melalui tema ini ia berharap agar dapat tercipta kembali keharmo-nisan kehidupan antar manusia maupun dengan alam semesta.Melalui upacara ini para umat Hindu pun berdoa untuk per-damaian nusantara dan dunia. Menurutnya, dengan adanya harmoni maka akan tercipta sebuah kebahagiaan. Imbasnya tidak hanya kehidupan manusia, namun juga kehidupan alam.
Upacara sakral umat Hindu ini dipimpin empat pedanda atau pendeta Hindu yakni Ida Pedanda Gede Duaja Manuaba, Ida Bhaga-wan Putra Manuaba, Ida Dalem Surya Dharma Sogatha, dan Ida Pandita Sira Empu Putra Girinata. Selain itu juga diikuti ratusan Wasi dari seluruh Indonesia.Setelah seremonial pembu-kaan oleh Presiden Joko Widodo, upacara Tawur Agung Kesanga pun dimulai. Diawali Tawur Panca Kelud, lalu Nganteb Caru dilanjutkan persembahan ber-sama. Selanjutnya Ngerarung Caru dan pembagian nasi tawur dan tirta caru oleh para wasi.
Upacara Tawur Agung Kesanga ini pun juga menampilkan ke-budayaan Jogjakarta. Ini terlihat dengan hadirnya gamelan Jawa dan juga Beksan Golek Ayun-Ayun. Akulturasi ini, menurut Ida Bagus, sebagai wujud kehar-monisan umat Hindu di Jogja-karta. “Bukti bahwa keharmo-nisan sudah terjalin dengan sangat baik,” ungkapnya.Melengkapi serangkaian upa-cara, pawai ogoh-ogoh pun di-gelar di kawasan Malioboro, Jogja, pada sore harinya. Sebe-lumnya pawai ini dilepas dari kawasan Monumen Jogja Kem-bali (Monjali) menuju perem-patan Jalan Wreksodiningrat atau perempatan Jembatan Sarjito pada siang harinya.
Sementara itu Presiden Joko Wi-dodo dalam sambutannya berha-rap Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1937 menjadi momentum penting bagi umat Hindu. Momentum sa-kral ini dapat menjadi bentuk se-mangat dan inspirasi, di mana umat Hindu dapat turut membangun kehidupan bermasyarakat, ber-bangsa dan bernegara. Jokowi pun mengajak umat Hindu melalui Hari Raya Nyepi ini untuk merenungkan hakekat dan makna kehidupan. “Menjadi sarana instropeksi, membersihkan jiwa dari segala bentuk pikiran tidak jernih, perkataan yang tidak pada tempatnya, juga sarana men-ciptakan kedamaian, ketentraman dan harmoni. Namun untuk men-jaganya juga harus dirawat dan dilestarikan,” ungkapnya.
Ditambahkan, Hari Raya Nyepi juga menjadi momentum untuk lebih mendekatkan diri dan membangun kehidupan yang harmoni. Wujud harmoni ini meliputi hubungan baik antara manusia dengan penciptanya, manusia dengan lingkungan mau-pun manusia dengan sesamanya.Menurutnya, dari wujud har-moni ini dapat melahirkan ke-hidupan yang aman, tentram dan damai. Sekaligus mengajak umat Hindu di seluruh tanah air tidak hanya menanamkan nilai luhur. Namun juga mempertahankan nilai toleransi, Bhinneka Tunggal Ika dan persatuan keberagaman.”Kedepankan semangat tole-ransi dan kebhinekaan, seman-gat kebersamaan, semangat gotong royong, semangat persa-tuan dalam keberagaman kita. Melalui semangat kerja, seluruh komponen bangsa termasuk umat Hindu kita harapkan ikut bahu membahu, bergotong royong, bekerja bersama-sama untuk Indonesia yang lebih maju, se-jahtera, dan untuk Indonesia yang lebih bermartabat,” pesannya.
Dalam kesempatan ini, Guber-nur DIJ Hamengku Buwono X juga berpesan agar setiap umat dapat meningkatkan kualitas hidup. Mampu mengatasi tan-tangan hidup dari godaan, dan menjadi manusia yang suci baik akal maupun perbuatan.Perayaan Hari Raya Nyepi di Jogjakarta, menurutnya, mam-pu berjalan dengan khidmat dan kusyuk. Wujud toleransi ini telah berjalan dengan baik dan selaras, sehingga suasana ini mampu memperkuat wujud kesatuan dan persatuan seluruh umat beragama, di Jogjakarta pada khususnya.
Sebelum meninggalkan Upa-cara Tawur Agung Kesanga, Presiden Jokowi menyempatkan diri menyapa para umat Hindu yang hadir. Ia terlihat memu-tari lapangan tempat upacara ini berlangsung. Meski penja-gaan ketat, Jokowi tetap meny-ambut warga yang ingin me-nyapanya secara langsung.Bahkan dalam kesempatan ini, Jokowi memberikan beberapa “amplop” ke sejumlah umat yang berusia sepuh.
Selain itu dia juga berpesan agar warga tetap semangat bekerja. Dia juga ber-pesan agar para warga tidak me-ninggalkan kehidupan beribadah.Upacara Tawur Agung Kesanga juga dihadiri Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Men-teri Koperasi Ngurah Puspayoga, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Gubernur Jateng Ganjar Pra-nowo, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko dan Wakil Ketua DPD yang juga istri HB X, GKR Hemas. (dwi/laz/ong)