HERI SUSANTO/RADAR JOGJA
ISTIMEWA: Upacara Peringatan Hadeging Ngayogyakarta di halaman Kepatihan, Jogja, kemarin (20/3). Semuanya bernuansa Jawa, termasuk aba-aba dalam upacara ini.

Upacara Pakai Bahasa Jawa, Jadi Tontotan Wisatawan

Kemarin (20/3) menjadi hari pertama bagi PNS, guru dan karyawan instansi pemerintah di DIJ mengenakan pakaian Jawa lengkap. Berbagai hal menarik pun terjadi dalam penerapan Surat Edaran (SE) Nomor: 025/1177 tahun 2015 tertanggal 10 Februari 2015 ini.
HERI SUSANTO, Jogja
PEMANDANGAN berbeda terlihat di be-berapa perkantoran pemerintah di DIJ. Bagi wisatawan yang mengunjungi Jogja pun bingung untuk membedakan Kepatihan (kantor Pemprov DIJ) dengan Keraton. Se-bab, orang-orang di kedua tempat itu sama-sama mengenakan pakaian Jawa lengkap. Laki-laki mengenakan surjan dan jarik wiru, begitu juga kaum perempuan mengena-kan kebaya lengkap.Selain berpakaian Jawa, mereka juga wa-jib menggunakan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi. Ini berlaku juga saat Upacara
Peringatan Hadeging Ngayogyakarta di ha-laman Kepatihan. “Sedanten, caos pangor-matan,” tutur Komandan Upacara Iswanto kepada pasukannya.Kepala Bagian Humas, Biro Umum, Humas, dan Protokoler Sekretariat Provinsi (Setprov) ini menuturkan, sesuai dengan SE, komu-nikasi menggunakan bahasa Jawa. Hanya saja, karena baru pertama kali, memang PNS belum terbiasa.”Untuk beberapa kan-tor yang langsung ke pelayanan masyarakat, menggunakan bahasa Indonesia,” jelasnya.Penggunaan bahasa Jawa ini memang tak mengikat. Ini terlihat kala DPRD DIJ meng-gelar rapat Panitia Khusus (Pansus)
Wakil rakyat yang juga ber-kewajiban untuk mengenakan pakaian dan bahasa Jawa ini, tetap menggunakan bahasa Indonesia.”Kalau bahasa Jawa, sudah sehari-hari,” jelas Muhammad Yazid, anggota DPRD DIJ.Hanya saja, meski harus meng-gunakan bahasa Jawa, sepan-jang perjalanan Yazid menga-ku menjadi bahan pembica-raan. Bahkan kala dirinya berjalan di Malioboro untuk mencari sesuatu, menjadi pu-sat perhatian. “Abdi dalem ngglidik,” kelakar penghobi sepeda motor besar ini.Sebenarnya, kata dia, sempat berniat menaiki Harley Davidson miliknya untuk berangkat ke kantor dewan di Jalan Malio-boro.
Tapi, karena pertimbangan kesopanan dan etika, hal itu ia urungkan. “Masak pake jarik gini mbegagah,” katanya.Tak hanya wakil rakyat dan PNS, karyawan di DPRD ham-pir semuanya juga mengena-kan pakaian kebanggaan warga DIJ tersebut. Tak terke-cuali petugas cleaning service. Mereka tetap beraktivitas se-perti biasa. “Ya agak kagok, karena belum terbiasa,” ujar salah seorang petugas keber-sihan di sela menyapu.Ia menambahkan dengan mengenakan pakaian Jawa ini memang membatasi aktivitasnya.
Untuk hal-hal yang membutuh-kan langkah lebar, terpaksa su-lit ia lakukan. “Untung tidak harus melangkah,” tambahnya seraya tersenyum.Dia mengungkapkan, peng-gunaan pakaian Jawa ini memang meningkatkan rasa memiliki budaya adiluhung tersebut. Apa-lagi, selama ini mengenakan pakaian Jawa hanya saat bertu-gas among tamu saat saudaranya hajatan pernikahan. (*/laz/ong)