BANTUL – Dinas Pendidikan Dasar (Dikdas) Bantul mengeluhkan rendahnya minat para guru untuk menjabat sebagai kepala sekolah. Hal ini seolah menjadi bukti, bahwa kedudukan sebagai kepala sekolah kini bukan lagi merupakan jabatan yang bergengsi. “Kalau ada kepala sekolah yang pensiun, susah cari gantinya,” kata Kepala Dikdas Bantul, Totok Sudarto, kemarin (20/3).Rendahnya minat guru untuk menjadi kepala sekolah, disinyalir disebabkan karena beberapa faktor. Selain harus mengemban tanggungjawab terhadap sekolah, gaji yang diperoleh kepala sekolah juga tidak jauh berbeda dengan gaji guru. “Hanya selisih Rp 121 ribu per bulan. Padahal, tugas yang dikerjakan kepala sekolah lebih berat,” imbuh Totok.
Totok mengaku kesulitan menghadapi persoalan ini lantaran dalam satu bulan ada sekitar 20 guru yang mengalami pensiun. Sekitar 5 sampai 10 di antaranya merupakan jabatan kepala sekolah. “Kami kemudian mengundang para guru yang sudah diseleksi dan dianggap mampu mengemban tugas sebagai kepala sekolah. Namun saat diberikan jabatan tersebut, sebagian besar justru menolak,” keluh Totok.Pada akhirnya, pihak Dikdas kemudian menunjuk langsung guru yang bersangkutan untuk diangkat menjadi kepala sekolah. Dengan sistem ini pun, masih ada beberapa di antaranya yang menolak, namun ada juga yang bersedia. “Mereka kemudian didiklat oleh lembaga pendidikan untuk mendapatkan edukasi tentang tugas kepala sekolah,” jelas Totok.
Ia menyampaikan, jabatan sebagai kepala sekolah diemban selama empat tahun, kemudian bisa diperpanjang dan diangkat lagi selama empat tahun. Jika dianggap perlu, dalam perjalanannya, kepala sekolah boleh dipindahtugaskan ke sekolah lain atau justru diberhentikan jika kinerjanya dianggap tidak maksimal. “Dalam hal ini, dinas diberi kewenangan untuk menata mereka,” tandasnya. (zam/din/ong)