SLEMAN-Pemkab Sleman melakukan langkah taktis untuk mencegah dampak negatif pakaian bekas impor (owolan). Sekretaris Daerah Sunartono mengeluarkan surat edaran yang berisi instruksi untuk tidak membeli dan menggunakan produk owolan.Surat Nomor 511/00523 tersebut sebagai tindak lanjut Surat Direktur Jenderal Standarisasi dan Perlindungan Konsumen, Kementerian Perdagangan RI Nomor 48/SPK/SD/2015 tentang Penanganan Pakaian Bekas Impor. “Sebenarnya bukan hanya berlaku untuk pegawai negeri sipil. Tetapi untuk melindungi seluruh masyarakat,” jelas Sunartono di ruang kerjanya kemarin (19/3).
Menyitir isi surat, Kemendag telah menguji sampel owolan yang beredar di pasaran. Hasilnya, dipastikan ada cemaran bakteri dan jamur patogen yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan. “Para pegawai diminta menyiarkan ke warga agar tidak membeli atau menggunakan owolan,” tandas Sunartono.Mantan kepal Dinas Kesehatan itu menepis mitos tentang cara mudah membunuh kuman yang menempel pada pakaian bekas dengan cara direndam menggunakan air panas. Mitos tersebut tidak benar. Sebab, virulensi kuman di setiap daerah berbeda-beda.Sunartono mencontohkan virus hepatitis. Meski direbus dengan air panas, virus tersebut tak mati karena bisa membungkus dirinya. “Itu (merebus owolan) tak menjamin bisa mematikan kuman,” tegasnya pejabat bergelar dokter itu.
Selain itu, ada perbedaan kharakteristik antara lingkungan di luar negeri (tempat asal owolan) dengan Indonesia. Selain perbedaan musim, kondisi suhu juga lain. Menurut Sunartono, hal tersebut berpengaruh pada tumbuh kembang bakteri dan daya tahan individu yang terjangkiti virus atau bakteri. “Di daerah asal mungkin pemakainya merasa normal. Tetapi bisa beda di sini karena mutasi bakterial,” paparnya.Sunartono menekankan agar masyarakat membeli produk baru karya lokal. Memang, diakuinya produk owolan lebih murah. Tapi, produk baru risikonya lebih kecil. Di sisi lain, membeli produk lokal akan meningkatkan perekonomian dalam negeri.Larangan pemerintah justru direspons negatif pedagang owolan. Alasannya, produk tersebut merupakan bagian usaha kecil masyarakat. “Kalau memang banyak virus, tentu kami juga kena. Banyak pelanggan tidak ada yang komplain tentang itu?” Tutur Andi, 23, pedagang owol di Sleman. (yog/din/ong)