HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
SETYA TUHU: Seluruh PNS di lingkungan Pemkab Kulonprogo mengikuti upacara peringatan Adeging Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
KULONPROGO – Seluruh Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemkab Kulonprogo berpenampilan lain, kemarin (20/3). Mereka semua mengenakan busana adat Jawa saat mengikuti upacara yang merupakan Pengetan Adeging Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Upa-cara dipimpin Sekretaris Daerah Kulonprogo Astungkoro. Sekda Astungkoro mengungkap-kan, sudah seharusnya peringatan kali ini dilakukan dengan ikhlas, peringatan juga berarti wujud kese-tiaan seluruh warga Kulonprogo sebagai kawula Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. “Dengan memakai pakaian pranakan ini, sebagai wujud golog gilig kita semua dalam meles-tarikan kebudayaan Jawa yang luhur ini,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Sekda Astungkoro juga sempat sekilas membeberkan sejarah berdirinya Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada hari Kamis tang-gal 15 Februari 1755 M Susuhunan Paku Buwono III dan Pangeran Mangku Bumi berkeinginan menga-dakan pertemuan di Desa Jatisari.”Pertemuan ini kemudian dise-pakati Pemerintah Hindia Belanda (VOC) untuk mengakhiri perang. Hingga kemudian munculah per-janjian yang kita kenal dengan per-janjian Giyanti pada hari Kamis Kliwon, 29 Rabiul Awal 1680 H atau 20 Februari 1755 M,” bebernya.
Ditambahkan Astungkoro, per-janjian Giyanti ditandatangani tiga pihak, yakni Pemerintah Hindia Belanda (VOC) diwakili Gubernur Nicolas Harting, Kasunanan Sura-karta (Susuhunan Paku Buwono III) yang saat itu tidak hadir dan Pangerang Mangkubumi.Kemudian pada hari Kamis Kliwon 29 Jumadilakir 1680 H atau 20 Maret 1755 M, Pangeran Mangku Bumi mengumumkan berdirinya Na-gari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. “Berdasar sejarah tersebut, maka tanggal 20 Maret 2015 ditetapkan menjadi pe ringatan Adeging Nagari Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat,” terangnya. (tom/ila/ong)