FOTO-FOTO: PDGI SLEMAN FOR RADAR JOGJA
BERBLANGKON: Para dokter gigi sedang memeriksa gigi para siswa MI Ma’arif Bego, Maguwoharjo (20/3).
SLEMAN – Ada yang tak biasa di pagi itu, Jumat (20/3). Berblangkon, mengenakan sur-jan dan jarik, beberapa di antaranya leng kap dengan keris di pinggang, para dokter gi gi memeriksa pasien
Yang perempuan memakai busana adat Jawa, sebagian lain-nya berjilbab dan berkebaya. Jumlahnya 120 dokter gigi. Pa-siennya hampir 1000-an anak usia SD. Para anggota Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Cabang Sleman itu menyebar di dua lokasi, yaitu Madrasah Ibtidai-yah (MI) Ma’arif Bego, Maguwo-harjo dan SD Kanisius Sengkan, Depok, Sleman. Mereka menga-dakan acara sikat gigi bersama bagi murid SD di halaman se-kolah. Diawali ikrar sikat gigi dan menyanyikan lagu “Bangun Tidur” yang syairnya berisi pesan menyikat gigi secara teratur.
Yang menarik, peragaan me-nyikat gigi yang betul tidak hanya dilakukan oleh para dok-ter gigi. Tetapi juga para guru dan murid SD itu sendiri sela-ku “dokter gigi” kecil. Usai sikat gigi masal, para murid masuk ke ruang-ruang kelas. Kem-bali para guru yang sudah di-latih oleh tim PDGI Sleman, memberikan penyuluhan ten-tang pergigian. ‘’Hebat ya, su-dah seperti dokter gigi beneran,” bisik seorang dokter gigi yang menyaksikan penyuluhan oleh para guru itu. Tidak sebatas berbusana Jawa, para dokter gigi itu berusaha menggunakan Bahasa Jawa. Pa-dahal sebagian dari mereka adalah para pendatang dari luar Jawa. ‘’Demi menghorma-ti anjuran Sultan,” kata seorang dokter gigi.
Hari itu memang bertepatan dengan dua peris-tiwa penting. Hari berdirinya Keraton Jogjakarta 268 tahun silam, dan Hari Kesehatan Gigi dan Mulut se-Dunia (World Oral health Day/WOHD). Terkait WOHD, kali ini ditan-dai pencanangan gerakan be-bas gigi kerowok (karies) me lalui kegiatan sikat gigi 21 hari pagi dan malam. Para murid SD diberikan penyuluhan terlebih dahulu. Selanjutnya mereka mendapatkan pasta dan sikat gigi, serta lembar keaktifan menyikat gigi pagi dan malam. Ke dalam lembaran semacam buku rapor itu, para murid diminta membubuhkan stiker yg sudah disiapkan setelah selesai menyikat gigi. Setiap akhir pekan, buku rapor me-nyikat gigi itu dievaluasi oleh para guru dan tim PDGI Cabang Sleman.
Menurut Ketua PDGI Sleman Dr dr Ahmad Syaify, Sp Perio (K), dalam waktu 21 hari diha-rapkan ada nilai-nilai baru ten-tang cara dan waktu menyikat yang melekat pada diri para mu-rid SD itu. Faktor utama gigi kerowok di antaranya kebiasaan menyikat gigi yang salah. Diakui dosen FKG UGM ini, lebih 90 persen masyarakat In-donesia sudah menyikat gigi dua kali sehari. Namun, hanya 2,3 persen yang sudah melakukan-nya di waktu yang tepat, yaitu pagi dan malam sebelum tidur.
Hal tersebut, lanjut Syaify, merupakan salah satu penyebab kondisi kesehatan gigi dan mu-lut masyarakat Indonesia masih memperihatinkan. Berdasarkan RISKESDAS 2013, indeks kerusa-kan gigi DMFT di Indeonesia masih sebesar 4.6, sedangkan di DIJ 5,9. Saat ini persentase masyarakat Indonesia yang mempunyai masalah gigi dan mulut. Untuk DIJ justru lebih tinggi yaitu 32,1 persen. ‘’Ironis, karena di sini ada dua FKG dan jumlah prak-tik dokter gigi banyak sekali,” jelas Syaify. Jumlah dokter gigi di Sleman hampir mencapai 400 orang. (laz/ong)