FOTO-FOTO: DWI AGUS/RADAR JOGJA
MENJIWAI: Sutradara Hanung Bramantyo ikut terlibat dalam pentas Jurang di TBY. Foto kanan, para sesepuh teater realis tetap terlihat semangat dalam pementasan ini.

Terlihat Semangat, Hanung Bramantyo Beri Apresiasi

Keberadaan teater realis di Jogjakarta saat ini terbilang minim. Upaya untuk menghidupkan kembali pun dilakukan dengan pementasan. Hal ini dilakukan oleh Dinas Kebudayaan DIJ melalui pementasan teater realis berjudul Jurang.
DWI AGUS,Radar Jogja
JOGJAKARTA memiliki kekayaan dalam disiplin ilmu seni, khususnya teater. Ragam pementasan teater pun sering terseleng-gara setiap minggunya. Baik itu teater komu-nitas, pelajar hingga teater mahasiswa.Kamis (19/3) dan Jumat (20/3) menjadi hari bersejarah bagi dunia teater di Jogja-karta
Gedung Societet Militair Taman Budaya Yogyakarta (TBY) men-jadi saksi bisu pementasan ini. Para sesepuh teater mambang-kitkan kembali teater bergaya realis.”Pementasan ini merupakan program dari Dinas Kebudaya-an melalui Seksi Rekayasa Budaya. Pementasan ini untuk melihat bagaimana embrio awal teater realis terbentuk, sehingga menga-dakan pementasan ini dengan melibatkan para pelaku teater lawas,” kata Kepala Dinas Kebu-dayaan DIJ Umar Priyono (19/3).
Para teater lawas ini, di anta-ranya, Tertib Suratmo (Bengkel Teater Rendra), Liek Suyanto (Sanggar Bambu), Fajar Suhar-no (Bengkel Teater Rendra), Hasmi, Bambang Darto (Teater Alam), Bambang Susiawan (Teater Dinasty), Heru Sambawa (Teater Gadjah Mada), Tri Su-darsono (STEMKA) dan Watie Wibowo (Padmanaba). Selain itu juga melibatkan para pelaku teater muda.Meski telah memasuki usia se-puh, para jawara teater ini terlihat bersemangat. Mulai dari mimik muka hingga intonasi dalam berucap.
Semua lakon mampu dihidupkan oleh para sesepuh teater Jogjakarta ini.Pementasan teater realis kali ini mengangkat lakon Jurang. Sebuah naskah yang bercerita tentang sebuah bus yang jatuh ke jurang. Genre realis pun ter-cermin dari tata panggung. Se-buah bus terlihat menyangkut di sisi kiri panggung.”Para sesepuh ini memiliki jasa yang besar dalam mewarnai dunia teater di Jogjakarta. Seiring waktu berjalan, dunia panggung semakin minim menyapa me-reka. Sehingga selain sebagai nostalgia, juga mengapresiasi semangat para sesepuh ini,” kata sutradara pementasan Agus-tinus Budi Setiyanto.
Menurut pria yang akrab dis-apa Agoes Kencrot ini, dunia teater realis di Jogja sangatlah bermakna. Termasuk di era Pe-dro Sujono di mana genre ini berkembang pesat. Sayangnya, teater realis mengalami masa surut karena minim regenerasi.Alhasil setelah era Pedro Su-jono menjadi terabaikan, terle-bih dengan masuknya genre teater yang lebih segar. Padahal genre ini sangat penting dalam dunia teater. Meski terlihat simple layaknya percakapan harian, diperlukan kekuatan keaktoran yang mumpuni.Agoes mengungkapkan pemen-tasan ini pun berawal dari se-buah kegelisahan kultural, di mana teater realis sempat berjaya di awal seni ini berkembang.
Namun karena sebuah titik jenuh, beberapa senimannya beralih ke genre dan teater gaya baru.Perpindahan ini, menurutnya, tidak diimbangi dengan suatu bentuk regenerasi. Sehingga bi-bit penerus tidak terbentuk pada masa-masa tersebut. Alhasil be-berapa penggawanya pun tetap bertahan dengan genre realis yang diusung sejak awal.”Saat dinamika teater terus berkembang, Pedro Sujono tetap bertahan dengan gaya realis bersama Teater Muslim-nya. Untuk naskah ini ditulis Agus Leyloor dan mengalami penye-suaian dinamika dan pengalaman estetika para pemain sepuh,” ungkapnya.
Meski mengangkat para sese-puh, juga melibatkan pelaku teater muda. Salah satunya ada-lah sutradara muda Hanung Bramantyo. Meski menjadi su-atu poin yang berbeda, ia me-nolak bahwa titik berat pemen-tasan pada pelaku muda. Baginya, pementasan ini ada-lah tentang para sesepuh teater. Bagaimana di usia yang sudah tidak muda lagi tetap semangat melakoni seni. Bahkan kehidu-pan para seniman ini sudah diterjunkan secara total demi dunia teater.Dirinya pun berharap dengan adanya pementasan ini dapat menjadi sebuah pemicu.
Terle-bih para generasi muda untuk menggeluti teater realis, sehing-ga genre ini dapat terus ada dan dinikmati oleh penggiat dan pelaku seni di Jogjakarta.Hanung pun menampik keik-utsertaannya bukanlah hal yang istimewa. Menurutnya, keikut-sertaan dirinya adalah suatu hal yang wajar. Dirinya justru sang-at mengapresiasi para penggawa teater yang telah berusia sepuh.”Baginya keaktifan para sese-puh ini adalah nilai istimewa, di mana tetap konsisten men-jaga dan melestarikan dunia berkesenian. Basic film itu juga dari teater, dramaturgi film tidak lepas dari dramaturgi panggung.Seluruh insan film seharusnya memang begini ikut terjun ke teater,” kata Hanung.
Tertib Suratmo, pelaku teater yang paling sepuh mengaku sangat senang. Ini karena dengan adanya program ini kehidupan seni khususnya teater di Jogja-karta akan terus berjalan. Tidak hanya hadir dalam bentuk ke-senian yang baru, namun juga menampilkan yang lawas.Dengan program ini maka ritme dunia seni di Jogjakarta dapat terjaga, sehingga para se-niman tidak kehilangan sejarah dan asal-usulnya. Selain itu juga dapat saling melihat dan menginspirasi antargenerasi yang berbeda.”Pertemuan terkadang terjadi hanya dalam dunia panggung. Sebagian kami masih ada yang aktif, tapi ada juga yang beralih profesi. Apresiasi seperti ini sangatlah penting bagi dunia seni di Jogjakarta,” ungkap peng-gawa Bengkel Teater Rendra ini.
Dalam kisah ini digambarkan bagaimana situasi para penum-pang bus setelah jatuh ke jurang. Setelah dua hari dua malam terjebak, konflik pun terjadi di antara mereka. Di sela mencari jalan keluar dan pertolongan inilah para penumpang menunju-kan ego masing-masing.Para penumpang ini beraneka ragam profesi. Mulai dari ma-hasiswa, penceramah, rias peng-antin, pembawa acara, wartawan, tukang kayu, penyair, intelek hingga pengasong. Meski rawan konflik, keberagaman ini pula yang saling mengisi dan melen-gkapi.
Hanung dalam kesempatan ini berperan sebagai mahasiswa. Konflik besar terjadi ketika di-rinya harus ke Jakarta untuk merampungkan skripsi. Ada pula sosok Hasmi yang berperan sebagai pedagang asongan. Hasmi digambarkan sebagai sosok yang picik memanfaatkan bencana untuk keuntungannya sendiri.Di akhir pementasan, jalan keluar pun diperoleh setelah Watie Wibowo merayu Hasmi. Dalam usaha penyelamatan ini, hujan deras pun turun. Hanung yang awalnya mengalami konflik dengan Tertib Suratmo yang berperan sebagai sopir pun, mengorbankan skripsinya untuk menyelamatkannya.”Hanung harus memilih skripsi-nya atau menolong sang sopir. Semua konflik ini dihadirkan dengan gaya yang realis, se-hingga harapannya semua yang dibawakan benar-benar terasa seperti benar-benar terjadi,” kata Agoes.
Umar mengungkapkan pemen-tasan ini menjadi angin segar. Selain sebagai revitalisasi juga mampu membawa nilai positif. Apalagi, menurutnya, pementa-san ini mampu menjaring penon-ton dalam skala yang luas. “Akan sampai pada posisi ke-tika budaya porsinya semakin besar, juga akan mengecil jika kita tidak peduli. Langkah kecil ini dilakukan agar masyarakat Jogjakarta semakin kuat di bidang seni budaya. Juga dapat men-jadi tonggak kemajuan di Jogja-karta,” harapnya. (*/laz/ong)