ADIDAYA PERDANA/RADAR JOGJA
HIDUP NELANGSA: Tetty Moedjiati, 79, terpaksa hidup sebatang kara di pos ronda karena ditinggal anak-anaknya.

Makan dari Belas Kasihan, Minum Ambil Air Masjid

Di usianya yang sudah tua, seorang Ibu hanya butuh hidup tenang bersama keluarganya. Tidak demikian dengan Tetty Moedjiati. pada usianya yang menginjak 78 tahun, ia harus hidup sebatang kara. Kini, ia hanya tinggal di pos ronda tanpa penutup berukuran 3×3 meter.
ADIDAYA PERDANA, Mungkid
TETTY, panggilannya. Ia berjalan pelan dari salah satu masjid di Perumahan Griya Rejo Indah, Desa Japunan, Mertoyudan, Kabupaten Magelang. Dengan menenteng plastik hitam berisi dua botol air mineral, ia baru mengambil air untuk kebutuhan-nya selama tinggal di pos ronda di perumahan tersebut. Nenek berkulit gelap dan beruban ini sudah tiga bulan tinggal di pos ronda itu. Empat anak-anaknya tidak mau tahu terhadap kondisi Mbah Tetty. Kejadian bermula saat Tetty mengontrak di salah satu rumah di Jalan Elang 348. Di perumahan tersebut, ia bersama anak kedua dari empat anaknya, Heru Sutiyono. Karena tidak punya biaya, suatu hari ia diusir oleh yang punya kontrakan.
Anaknya, Heruminta izin pergi mencari pekerjaan. Namun pada akhirnya hilang tanpa ada kabar.”Setelah itu saya diantar ke rumah anak bungsu saya di Karanggading (Kota Magelang). Tetapi saya tidak betah. Saya disia-sia, saya dipukuli,” ungkap Tetty, (19/3).Ia mengaku memiliki empat anak. Tiga anak perempuan dan satu laki-laki. Tiga anak perem-puannya sudah mandiri dan tinggal tersebar. Ada yang di Kalimantan, Kabupaten Rembang, dan Karanggading, Kota Magelang. Sementara sang suami, sudah meninggal sejak belasan tahun lalu.”Lalu saya kembali ke sini (Perumahan), berharap bisa bertemu anak laki-laki saya Heru. Saya cuma cocok dengan dia,” ungkapnya pelan.Di ruangan pos ronda tersebut, kondisinya memprihatinkan.
Bangunannya tanpa pintu, tanpa jendela, beratap seng yang sudah keropos. Tetty mengaku, kalau siang di tempat tersebut terasa panas. Sementara jika malam hari, sangat dingin. “Atapnya bocor-bocor. Kalau hujan, saya hanya bisa duduk di sini. Tidak bisa ke mana-mana,” imbuhnya.Untuk tidur, ia beralaskan tripleks yang dilapisi kardus. Bantalnya, berupa gulungan-gulungan koran bekas. Ia enggan menggelar gulungan kasur yang ia bawa dari rumahnya dulu, karena khawatir kasurnya kotor. Gulungan kasur kapuk tersebut hanya dipakai melindungi tubuh-nya dari terpaan angin saat malam hari.Di dalam ruangan pos kamling, ada empat bungkusan plastik kresek.
Isinya ada piring, gelas, botol buat ambil air dari masjid, dan beberapa pakaian. Untuk mandi dan buang air besar, ia biasanya pergi ke toilet di sebuah masjid tidak jauh dari pos ronda tersebut. Warga sekitar cukup baik kepadanya. Sesekali ada yang belas kasihan. Mereka memberi makanan dan minuman ataupun uang sekadarnya. “Saya makan seadanya, kalau dikasih tetangga. Kadang ada juga yang ngasih uang Rp 2.000. Tetapi kalau tidak ada yang ngasih, saya enggak makan. Seperti hari kemarin (20/3), saya enggak makan,” katanya sembari meneteskan air mata.Nenek bertubuh kurus ini mengaku, dulu hidupnya sangat bercukupan. Ia pernah menjadi agen teh merek terkenal dan memiliki dua buah kios kelontong di sekitar Kota Magelang. Namun, keadaan berbalik setelah musibah kebakaran melanda kios miliknya. Ia bangkrut dan menjual rumahnya.Nahas, uang hasil menjual rumah amblas ditipu seseorang. Kemudian, ia tinggal bersama anak keduanya bernama Heru di perumahan tersebut.
Keduanya mengontrak rumah di perumahan tersebut, hingga akhirnya tidak mampu membayar biaya kontrakan. “Saya hanya pingin ketemu dengan Heru,” katanya berharap.Sementara itu, Ketua RT 10 Perumahan Griya Rejo Indah, AJ. Soetono, 64, menjelaskan, nenek Tetty tinggal di pos ronda sejak Januari 2015. Ia mengaku, nenek tersebut pernah tinggal di perumahan tersebut beberapa tahun lalu. Setelah diusir pemilik kontrakan, ia tiba-tiba kembali lagi.Warga perumahan pernah beberapa kali menghubungi salah satu anaknya yang tinggal di Karanggading, Kota Magelang. Katanya, mereka berjanji men-jemput.
Hingga kini, Tetty juga tak kunjung dijemput anak kandungnya.”Dia sudah sepuh (lansia), kami khawatir dia sakit. Karena musim hujan begini,” katanya.Soetono pernah mengadukan keberadaan Tetty ke Kepolisian Sektor Mertoyudan hingga Dinas Tenaga Kerja, Sosial dan Trans-migrasi (Disnakesostrans) Kabu-paten Magelang. Tetapi belum ada kejelasan hingga saat ini. “Petugas sudah survei ke sini. Tetapi belum ada tindakan apapun. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah,” katanya berharap. (*/hes/jko/ong)