DWI AGUS/RADAR JOGJA
ISTIMEWA: Aksi teatrikal oleh anak-anak down syndrome saat memperingati Hari Down Syndrome di Titik Nol Kilometer, Jogja, kemarin (22/3).

Haryadi Ikut Menari, Peduli Tidak Harus Kasihan

Minggu kemarin (22/3) menjadi hari momentum yang penting. Setiap tanggal 21 Maret, seluruh dunia memperingati sebagai Hari Down Syndrome. Sebuah seremonial khusus pun digelar di kawasan Titik Nol Kilometer Jogjakarta.
DWI AGUS, Jogja
CAR FREE DAY di sepanjang kawasan Nol Kilometer pada Minggu pagi (22/3) terlihat berbeda. Selain ramai oleh hiruk pikuk pejalan kaki dan pesepeda, ada pula puluhan anak. Anak-anak ini bukanlah anak-anak biasa, tapi dengan down syndrome.Meski begitu, wajah ceria terpancar dari puluhan anak ini. Belum lagi para orangtua yang turut mendampingi mereka. Semua beban pikiran seakan hilang ketika bisa melihat anak kesayangan mereka tertawa dan bahagia.”Hari ini istimewa karena untuk meraya-kan Hari Down Syndrome Dunia. Sebenar-nya jatuhnya 21 Maret kemarin, tapi baru dirayakan sekarang (Minggu, Red). Untuk kegiatan kali ini bertemakan Kebersamaan dalam Keberagaman,” kata Ketua Acara Ludyarto Bimasena Wibowo.Hari ceria ini diikuti tidak hanya anak-anak dengan down syndrome saja. Ragam komu-nitas di Jogjakarta hingga perguruan pencak silat pun turut serta dalam kegiatan ini. Tentu saja format acara yang ada ditata se-cara menyenangkan namun tetap edukatif.Orang nomor satu di pemerintahan Kota Jogja Haryadi Suyuti juga turut hadir. Bah-kan ia menyempatkan diri menari bersama anak-anak ini
Wali Kota Jogja ini mengatakan, kepedulian terhadap anak dengan down syndrome sangatlah penting. Meski begitu, bentuk kepedulian ini tidak harus diwujudkan dalam bentuk rasa kasihan.”Perlakuan secara istimewa bukan berarti seperti itu. Anak-anak ini juga butuh perhatian, namun juga tetap memiliki nilai. Sehingga penting bagi kita semua, tidak hanya orangtua untuk me-naruh perhatian yang lebih,” kata Haryadi.Suami Tri Kirana Muslidatun ini menambahkan dengan adanya kegiatan ini mampu memberikan efek edukasi. Terutama seputar pengetahuan dalam pemenuhan hak-hak anak dengan down syn-drome. Selain itu juga menanam-kan rasa peduli terhadap anak.Diakui Haryadi, dalam kesem-patan ini peran orangtua sangat besar, sehingga ajang ini juga dapat mempertemukan para orangtua dalam satu kesempa-tan. Ini karena selain pendeka-tan sosial merupakan kunci penting memberikan kenyama-nan kepada anak dengan down syndrome.”Saya sangat mendukung sekali gerakan yang dilakukan oleh Persatuan Orangtua Anak dengan Down Syndrome (POTADS). Para orangtua dapat berbagi pengalaman dan juga pengeta-huan mereka,” kata Haryadi.
Down Syndrome sendiri bukanlah penyakit, namun kondisi kelainan kromosom. Ini karena pembelahan kromosom saat masih janin tidak sempurna, sehingga mengalami chromosom disorder. Kromosom ke-21 mem-belah menjadi tiga, sehingga memiliki ekstra kromosom.Ketua POTADS DIJ Sri Rejeki Ekasasi menambahkan, kromo-som ini menjadi 47 dari yang seharusnya 46. Kondisi ini dalam istilah kedokteran sering disebut Trisomi 21. Penemu sindrom ini adalah Dr John Landon Down pada abad ke 18.”Nah nama down di sini bukan berarti turun, tapi nama dari penemu sindrom ini. Lalu pada tahun 21 Maret 2005 tepatnya di Prancis dideklarasikan Hari Down Dyndrome Dunia oleh periset Trisomi 21,” ungkapnya.Peringatan ini selalu dilakukan setiap tahunnya di dunia. Se-dangkan di Jogjakarta, diperingati untuk kali ketiga. Mengamini pernyataan Haryadi, fokus kegiatan ini adalah edukasi dan juga keguyuban.Di mana mengajak lingkungan, khususnya orangtua, berbagi pengalaman dalam merawat dan membesarkan anak-anak ini. Ragam kegiatan yang dilakukan mulai dari permainan hingga unjuk kebolehan dalam tari. Bahkan dalam kesempatan ini juga melibatkan sanggar seni dan anak-anak sekolah umum.
Menurutnya, kolaborasi ini untuk menguatkan tema yang diusung, di mana tidak ada celah pembeda antara anak dengan down syndrome dan anak lain-nya. Sehingga dapat bebas ber-main dan memaknai perbedaan sebagai sebuah keindahan.”Berbeda bukan berarti tidak mendapatkan kesempatan yang sama. Semangat mereka tetap sama, yaitu semangat anak-anak. Apalagi dalam kolaborasi ini, setiap anak dibebaskan. Bahkan mewujudkan bentuk seni yang indah,” katanya.Ia juga mengimbau kepada setiap orangtua agar tidak malu. Kasus yang beredar selama ini adalah anak dicampakkan. Ba-hkan dalam beberapa kasus ada yang sengaja dititipkan ke panti asuhan.Menurutnya, ini menyimpang dari segi kemanusiaan. Apa lagi sebagai orangtua tidak dibenarkan mencampakkan anaknya. Ini ka-rena semua anak adalah anugerah dan titipan dari sang pencipta, sehingga wajib mendapatkan kasih sayang dan perhatian.Dalam kesempatan ini Sri juga berharap perhatian dari instansi terkait.
Terutama dari Pemkot Jogja. Salah satunya dengan mengoptimalkan kebijakan ten-tang inklusi yang sudah berjalan selama ini. “Juga dari pelaku pendidikan tentang program yang terpadu dan terstandar. Lalu pelaku kese-hatan untuk kemudahan akses terapi dan pengobatan. Tapi dari semua itu, terpenting ada-lah lingkungan atau masyarakat. Bentuknya dengan penerimaan eksistensi anak dengan down syndrome,” ungkapnya.Sebagai wali kota, Haryadi pun berjanji akan mengoptimalkan program yang sudah ada. Menu-rutnya selama ini permasalahan sekolah inklusi terdapat pada tenaga pengajarnya. Imbasnya dalam setiap sekolah ada kuota pembatasan siswa disabilitas termasuk down syndrome.”Keterbatasan bukan pada ruang, tapi pada kemampuan staf pengajar. Ini karena jumlah-nya kadang tidak seimbang, sehingga terjadi kuota. Kita tetap upayakan untuk staf pengajar inklusi untuk ke depannya,” janji Haryadi. (*/laz/ong)