DWI AGUS/RADAR JOGJA
PERANGI NARKOBA: Masyarakat menandatangani spanduk rentang sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan rehabilitasi 100.000 penyalahgunaan narkoba
JOGJA – Langkah memerangi narkoba terus dilakukan Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Jogja. Deklarasi rehabilitasi 100.000 penyalahguna narkoba pun digelar kemarin pagi (22/3). Bertempat di depan Gedung Agung Jogjakarta, aksi dilakukan oleh sejumlah jajaran Pemkot Jogja dan masyarakat.Deklarasi dibacakan dua kali, pertama oleh Wakil Wali Kota Imam Priyono, Kepala BNNK Jogja Saptohadi, jajaran Forkompinda mulai dari kapolres, dandim, kejaksaan, pengadilan negri, dan DPRD. Deklarasi kedua dibaca oleh masyarakat yang diwakili Asosiasi LPMK, FKUB, FKDM, KNPI, Karangtaruna, dan IKPMDI.”Deklarasi ini merupakan bentuk tindak lanjut dari instruksi Presiden Jokowi dan BNN Pusat bahwa Indonesia dalam level Darurat Narkoba. Sehingga muncul kebijakan tahun 2015 sebagai tahun gerakan rehabilitasi 100.000 penyalahgunaan narkoba,” ungkap ketua BNNK Jogja Saptohadi kemarin (22/3).
Saptohadi mengungkapkan deklarasi gerakan ini diharapkan dapat menyatukan pandangan bersama. Bahwa kondisi Indonesia saat ini termasuk di dalamnya Jogjakarta memasuki kondisi darurat narkoba. Imbas dari keadaan ini tidak hanya jangka pendek, namun jangka panjang.Sehingga untuk mewujudkan masyarakat yang bebas narkoba perlu membangun sinergitas. Tidak hanya antarinstansi pemerintah dan swasta, namun juga seluruh elemen masyarakat. Caranya dengan membangun koordinasi dan sinergitas lintas sektor dan instansi.”Jadi tidak langsung ditindak secara pidana, namun kita sarankan dilakukan rehabilitasi. Untuk program tahun ini berkomitmen untuk merehabilitasi 100.000 penyalahguna narkoba. Menghasilkan rekomendasi yang penyalah guna narkoba untuk direhabilitasi,” ungkapnya.
Sapto juga mengungkapkan gerakan ber-skala nasional ini untuk mengubah stigma selama ini. Di mana para penyalahgunaan narkoba diidentikkan sebagai kriminal. Posisi penyalahguna justru bisa menjadi korban. Terutama korban dari kesalahannya sendiri karena menyalahgunakan narkoba.Program rehabilitasi 100.000 ini berlaku secara nasional. Sedangkan untuk Jogjakarta sendiri jumlah penyalahguna mencapai angka 69.700. Tahun lalu jumlah terehabiltasi sekitar 0,1 persen sedangkan jumlah pecandu meningkat 0,5 persen.”Jumlah kalah jauh antara jumlah rehabilitasi dan peningkatan pencandu dalam satu tahun. Tahun ini menargetkan 300 rehabilitasi untuk Jogjakarta dan pasti ditingkatkan. Sedangkan untuk nasional tahun depan rencananya meningkat menjadi 400.000 rehabilitasi,” katanya.
Deklarasi diawali dengan senam sehat yang diikuti seluruh masyarakat. Selain itu juga menampilkan teatrikal satgas antinarkoba dari beberapa sekolah di Kota Jogja. Di akhir acara seluruh masyarakat yang hadir membunyikan othok-othok.”Juga menandatangani spanduk rentang sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan rehabilitasi 100.000 penyalahgunaan narkoba,” tandas Saptohadi. (dwi/laz/ong)