ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA BERBAGI : Kunjungan Humas Setda Bantul diterima Wakil General Manager Batam Pos Rizal Fahlevi dan Wakil Pemimpin Redaksi Batam Pos Tunggul Manurung.
BATAM – Pesatnya perkembangan Batam sebagai kota industri terbesar di Indonesia tak lepas dari peran media massa, baik cetak maupun elektronik. Bahkan, di tengah perkembangan salah satu kota di Provinsi Kepulauan Riau tersebut, media massa ikut terlibat sebagai mediator kala investor, pemerintah dengan penduduk tidak mencapai kata sepakat.
Hal tersebut diungkapkan Wakil Pemimpin Redaksi Batam Pos (Jawa Pos Grup) Tunggul Manurung saat menerima kunjungan rombongan Humas Setda Bantul di Gedung Graha Pena Batam akhir pekan lalu. “Media massa tidak hanya memberitakan. Tetapi, kami melibatkan diri dengan semua pihak,” tegas Tunggul.
Dia berpendapat, salah satu alasan investor tertarik dengan Kota Batam adalah suasananya yang kondusif. Situasi ini dapat tercipta bila media massa juga turut mendukungnya.
Gesekan kepentingan, kata Tunggul, memang sudah menjadi hukum alam. Dalam proses pembangunan di berbagai daerah, tak terkecuali di Kota Batam, tak bisa lepas dari perbedaan kepentingan antarpihak.
Namun demikian, secuil persoalan ini di Kota Batam dapat diminimalisasi, bahkan diredam. Ini karena media massa seperti Batam Pos lebih mengedepankan kepentingan umum. “Karena kami nggak hanya mengkritisi. Tetapi juga sekaligus memberikan solusi,” ungkapnya.
Tunggul menceritakan, ada salah satu investor, dan pemerintah pernah terganjal dengan persetujuan warga. Tarik ulur pun tak terhindarkan. Alhasil, manajamen Batam Pos pun turun tangan dengan menawarkan diri sebagai mediator. Setelah seluruh pihak dipertemukan, kesepakatan pun tercapai.
“Ada kalanya mediasi karena inisiatif kita sendiri. Terkadang pemerintah meminta kita untuk menjadi mediator,” tuturnya.
Staf Ahli Bidang Pemerintahan Setda Bantul Heni Purwanto menuturkan, kedatangan rombongan Humas Setda bertujuan untuk menimba ilmu di Batam Pos. Sebab, pemkab memiliki agenda besar. Yaitu, menjadikan kecamatan Sedayu, Pajangan, dan Piyungan sebagai kawasan industri. Melalui kunjungan ini, Heni pun berharap pemkab dapat mengadaptasinya.
Memang, kata Heni, Untuk menarik investor diperlukan sejumlah upaya. Salah satunya, peran media massa. “Perkembangan Bantul sekarang ini juga tak lepas dari peran media massa,” tambahnya.
Menurutnya, kabupaten Bantul memang sudah memiliki banyak industri. Hanya saja, masih sebatas pada industri rumahan. Melalui program one village one product, setiap wilayah di Bumi Projo Tamansari memproduksi berbagai produk khas unggulan. “Nah, untuk kawasan industri berpolutan tinggi kami arahkan di tiga kecamatan. Yaitu Piyungan, Sedayu, dan Pajangan,” tandasnya.(zam/din/mga)