GUNTUR AGA/RADAR JOGJA
HARI AIR DUNIA: Aksi Greenpeace Youth membentangkan baliho kuning bertuliskan Fashion Indah Tidak Merusak Air di Sungai Code, kemarin (22/3).
JOGJA – Greenpeace Youth Jogja mela-kukan sebuah aksi untuk memperinga-ti Hari Air Dunia yang jatuh kemarin (22/3). Aksi ini dilakukan di Jembatan Sayidan dan Sungai Code Jogja dalam wujud teatrikal.Selain itu juga dibentangkan baliho berukuran raksasa di dinding utara Sungai Code. Baliho berwarna kuning ini bertuliskan Fashion Indah Tidak Merusak Air. Aksi Greenpeace Youth tahun ini fokus pada limbah industri, khususnya tekstil
“Aksi kali ini untuk menyoroti limbah industri tekstil yang di-buang ke sungai. Dalam kasus ini mengangkat kasus limbah di Sungai Citarum, Jawa Barat. Bagaimana limbah tekstil atau fashion sudah sangat merusak ekosistem Sungai Citarum,” kata Koordinator Aksi Ibar Furqo-nul Akbar.Dalam aksi ini digambarkan pria yang mengenakan kostum manekin. Manekin menyimbol-kan industri tekstil. Ada pula pria yang menggunakan kostum haz-mat yang identik dengan pen-cemaran, khususnya radiasi.Akbar mengungkapkan, aksi ini untuk menyadarkan masya-rakat bahwa fashion yang dikena-kan tidak hanya aman untuk tubuh, tapi juga lingkungan. Ini untuk menyoroti limbah yang selama ini kerap dibuang ke aliran sungai.”Di beberapa negara juga sudah dimulai gerakan Detox.
Gerakan ini mengajak para pelaku fashion, baik produsen maupun konsu-men menggunakan bahan yang aman. Selama ini bisa meng-gunakan serat bambu untuk kain, dan tinta nabati bukan kimia,” ungkapnya.Gerakan Detox ini mengajak para pecinta fashion untuk me-lihat jangka panjang. Tidak ha-nya keindahan sesaat, namun juga dampak jangka panjangnya. Hal ini, lanjut Akbar, kurang di-dalami oleh beberapa produsen dan konsumen.Alhasil penggunaan ini ber-dampak buruk pada tubuh ma-nusia dan lingkungan. Sedang-kan untuk air ekosistem menjadi rusak. Dampak dari kerusakan ini akan berpengaruh menjadi lingkup yang lebih besar.”Air itu sangat penting untuk kehidupan manusia. Kepedu-lian ini memang diawali dari individu, tapi pemerintah juga wajib peduli. Ini karena seba-gai pihak pembuat kebajikan,” katanya.
Sementara untuk Jogjakarta sendiri tingkat pencemaran air oleh limbah masih minim. Mes-ki begitu, menurut pengamatan Greenpeace Youth Jogja, masih ada sampah di beberapa titik. Tentu saja ini tetap menjadi per-hatian untuk menanamkan ke-pedulian terhadap lingkungan, khususnya air.”Aksi Hari Air Dunia di Jogja-karta konsentrasi pada dua titik. Selain di Jembatan Sayidan, juga di Wates. Sedangkan untuk gerakan nasional, selain Jogjakarta juga ada di Jakarta, Bandung dan Semarang,” ungkapnya. (dwi/laz/ong)