DEWI SARMUDYAHSARI/RADAR JOGJA
KREATIF: Lewat sentuhan seni tangan Agung Budi Triono, helm lawas pun dibuat menjadi helm bergaya retro. Beberapa artis telah memesan helm buatannya.

Berharap Pengendara Motor pun Terlihat Fashionable

Tak hanya model atau pecinta fashion yang butuh aksesoris, pengendara motor pun demikian. Bagi pengendara motor, helm bukan lagi hanya peralatan wajib pakai di jalan, tapi juga dilihat sebagai aksesoris. Dengan sentuhan jiwa seninya, Agung Budi Triono merombak habis helm lawas jadi helm bergaya retro. Menjadikan pemakainya bak peragawan di catwalk beraspal hitam
DEWI SARMUDYAHSARI, Jogja
DALAM satu jam ini sudah keempat kali-nya Agung mengganti personal status di akun Facebook-nya. Merasa pengangguran, Agung pun pun memiliki rasa bebas untuk melakukan apa pun, termasuk ‘mantengin’ layar telepon genggamnya untuk membuka akun jejaring sosial yang saat itu sedang booming di tanah air. Wajar saja Agung me-rasa pengangguran, karena pekerjaan di kios plat nomornya semua sudah mahir dikerjakan dua karyawannya.Sedang asyiknya ber-facebook ria, seorang teman lama yang mampir memberi komen-tar soal kebiasaannya mengganti-ganti status dalam rentang waktu yang singkat. “Ganti status kok sering banget, kaya anak muda saja,” ujarnya meniru sang teman lama. Ko-mentar singkat itu bak petir yang membangun-kannya dari tidur. Merefleksi diri, hingga akhirnya ia mencoba untuk membuat dirinya sibuk kembali dengan dunia yang tidak jauh dengan hobinya, yakni custom.Hobi custom motor memang sudah lama jadi bagian hidupnya. Dari mengutak-utik motor, sarjana hukum ini pun iseng-iseng membuat helm retro
Awal membuat hanya satu, dua, dan itu pun dipakai sendiri. Teman-teman motor customnya yang tadinya hanya melihat, akhirnya minta dibuatkan.Mulai banyak yang meminta membuatkan, lelaki yang tahun ini genap berusia 39 tahun ini pun melihat adanya peluang usaha. Tahun 2011 dia mulai serius menjalankan usaha mendesain helm bergaya retro. Berangkat dari berlatih secara otodidak, Agung juga tidak ingin bermain peran tunggal dalam usahanya ini. Helm-helm lawas yang dirombak ulang atau di recycle, banyak dia dapat dari orang lain yang diajak ker-ja sama. Misalnya pedagang di Pasar Sentir atau pun pemulung. Dus packaging-nya juga meng-gunakan dus bekas yang masih layak pakai untuk packing.Helm lawas yang sudah usang dan tampak sudah tidak layak dipakai lagi, dirombak total dan 90 persen diganti dengan bahan yang baru. Selain cat dan pole-san desain, busa dalam hingga tali pengaman helm pun semua diganti baru.”Orang-orang seperti pedagang pasar dan pemulung saya libatkan untuk mempermudah mencari helm bekas ini, karena helm-helm ini kebanyakan produksi tahun 90-an. Kalau helm modern di-buat gaya retro, jadinya tidak pas dan terlihat memaksakan,” jarnya sambil tak henti memegang kuas.
Memang ada beberapa tempat di Jogja yang membuat helm-helm seperti usaha miliknya. Namun ia masih memiliki ka-rakteristik yang terus di-update, yakni hand lettering atau typo-grafi. Desain grafis yang mulai ngetren dan diaplikasikan pada desain helm retro buatannya. Tak ada guru yang mengajarkan, dirinya hanya banyak melihat dan menggali potensi diri sen-diri.”Jiwa seni memang harus ada, karena ini manual dan ada efek timbulnya, kalau yang cutting brush itu pakai mesin dan ha-silnya flat,” ujar Agung sambil memperlihatkan beberapa helm yang sudah jadi di workshop-nya yang berada di kawasan Badran, Jetis, Jogja. Selain hasil mulut ke mulut teman-teman sesama pecinta motor custom, Agung meman-faat jejaring sosialnya. Sudah cukup banyak orang yang mem-percayakan desain helm retro pada dirinya. Apalagi saat ia mulai mengunggah lewat akun instagram, kran pesanan sema-kin mengucur deras.”Tujuh persen justru dari luar Jogja, dari Jawa dan Bali, meski dari Kalimantan juga banyak,” ujarnya. Berbagai kalangan pun kecantol untuk memesan helm retro pada dirinya, termasuk dari kalangan artis. Sebut saja Lembu “Club 80’s”, Cella “Kotak” dan Derby Romero yang sudah memesan 10 helm dengan desain berbeda.”Sampai sekarang saya buat by order, karena helm itu juga bisa bikin kecanduan. Jadi orang yang sudah pernah pesan helm dan tahu hasilnya bagus, dia pasti pengen bikin lagi dengan desain beda. Penunjang fesyen juga saat bermotor,” ujar Agung. (*/laz/ong)