DWI AGUS/RADAR JOGJA
UNIK: Bertajuk Hong Wilaheng, perupa Andreas Bernard menyuguhkan karya seni bernuansa mistis Jawa yang kental di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul.
BANTUL – Perupa Andreas Bernard hadir dengan konsep pameran unik di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul. Bertajuk Hong Wilaheng, kali ini ia menyuguhkan karya seni bernuansa mistis Jawa yang kental. Guratan indah tangannya mampu menghadirkan ragam filosofi Jawa da-lam bentuk karya seni.Bernard mengungkapkan karyanya bercerita tentang makna filosofi ini. Sehingga kali ini tidak hanya mengha-dirkan keindahan estetik seni
Tapi juga pemaknaan akan filosofi kehidupan Jawa. Pemiki-ran ini pun telah menghiasi kehidupan masyarakat Jawa se-jak zaman nenek moyang.”Hong Wilaheng adalah konsep global yang menginspirasi saya saat melakukan perenungan. Ba-gaimana membangun kejernihan hati dan ketenangan jiwa. Lalu ketika sudah mendapatkan titik ini, saya tuangkan ke dalam karya seni,” katanya kemarin (23/3).
Karya pria kelahiran Jogja-karta 3 Maret 1973 ini teriinspi-rasi juga dari syair Mangkune-gara IV dalam Serat Wedhatama. Khususnya dalam kalimat hong wilaheng sekaring bawana lang-geng, yang bermakna sederhana namun sarat dengan kedalaman makna.Bernard memaparkan hong wilaheng diartikan sebagai ko-song, dan sekaring bawana lang-geng diartikan sebagai wangi bunga bumi yang abadi. Se-hingga memiliki makna tentang kehidupan fisik manusia akan menjadi bermakna ketika diser-tai dengan tingkah laku luhur.”Kebaikan manusia tidak akan musnah meski fisik telah musnah. Inilah yang perlu kita ingat dalam melakoni kehidupan sehari-hari. Tidak hanya bersosialisasi, namun juga mengisi makna ke-hidupan.Tidak hanya untuk diri sendiri, namun orang lain dan lingkungan,” ungkapnya.
Ciri khas yang melekat dari karya Bernard adalah kecintaan-nya pada wayang. Lakon-lakon wayang pun dihadirkan dalam setiap karya-karyanya. Bahkan meski mengusung objek lukisan yang berbeda, tetap ada manu-sia yang memiliki fisik seperti wayang kulit.Barata dari Tembi Rumah Bu-daya, menilai Bernard adalah sosok seniman yang unik. Di mana segala nilai-nilai esensi dan eksistensi manusia dalam jagat kecil dan jagat besar Jawa divisualkan dalam mitos babad dan wayang.”Karya-karyanya juga mewa-kili nilai-nilai mendasar dan substantif, terutama Sangkan Paran manusia. Posisi manem-bah, tapa, meditasi dan berdoa menegaskan garis vertikal ma-nusia dan Tuhan.
Sedangkan garis horisontal antarmanusia menggaris bawahi soal makna kekuasaan,” ungkap Barata.Meski hadir dengan perwuju-dan masa lalu namun tidak menghilangkan realitas saat ini. Barata menambahkan masa lampau ala Bernard ini tetap kontekstual. Bahkan tema-tema lukisan ini tetap relevan dengan permasalahan saat ini.”Inilah sisi keindahan yang tetap relevan pada era sekarang ini. Meski tidak menghadirkan bentuk-bentuk kekinian tapi nilainya tetap kuat. Lakon dan tokoh yang sebagian besar di-lukis secara surealis maupun simbolis, sesungguhnya sangat kontekstual. Manunggaling pen-guasa dan kawula pada Semar, manunggaling jagat manusia pada Bima Suci, misalnya, akan selalu relevan dan signifikan,” tandasnya. (dwi/laz/ong)