HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA
EVAKUASI: Proses evakuasi harus dibantu menggunakan alat berat karena tebalnya material tanah longsor di Pedukuhan Ngroto, Pendoworejo, Girimulyo, kemarin (23/3).
KULONPROGO – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo menyatakan tanah longsor yang terjadi di Girimulyo merupakan bencana terbesar selama periode musim hujan tahun ini. Sedikitnya ada 19 titik longsor dalam musibah tersebut, sebagian menerjang rumah warga dan menutup akses jalan kabupaten.
Kepala Pelaksana BPBD Kulonprogo Untung Waluyo mengatakan bencana ini terus terang sangat mengejutkan, ramalan BMKG musim penghujan sudah mulai berlalu. Menurutnya, yang perlu diantisipasi sebetulnya justru bencana angin puting beliung karena akhir-akhir ini sering terjadi perbedaan suhu dan tekanan udara. “Namun kok justru longsor yang dipicu hujan sehari saja,” ungkapnya, kemarin (23/3).
Untung menjelaskan, kerusakan terparah dalam musibah longsor kali ini menimpa rumah Sigit Pramono, 30, warga Ngroto, RT 03 RW 02, Pendoworejo, Girimulyo. Longsor terjadi sekitar pukul 02.30, longsoran tebing meratakan bangunan rumah dan menutup akses jalan sepanjang 125 meter.
“Taksiran kerugian untuk korban Sigit mencapai Rp 150 juta. Mengantisipasi longsor susulan, keluarga korban kini masih mengungsi. Sementara akses jalan kabupaten yang menghubungkan Pendoworejo-Kedungtawang masih tertutup material longsor dan kini dalam proses evakuasi dengan bantuan alat berat milik DPU Kulonprogo,” jelasnya.
Untung memaparkan, berdasarkan laporan yang sudah masuk, 19 belas titik longsor di Girimulyo meliputi longsor yang menerjang rumah Karso Pawito, 71, warga Ngroto RT 22 RW 11; Suparyatin, 43, warga Pedukuhan Patihombo RT 13 RW 07; Paiman, 63. Serta rumah Sutrisno, 38, warga Pedukuhan Penggung RT 32 RW 16.
Kemudian rumah milik Subaryanto, 30, warga Pedukuhan Ponces RT 46 RW 23; Sanijo, 40, warga Pedukuhan Ponces RT 46 RW 23; Suparmi, 62, warga Pedukuhan Ponces RT 47 RW 24. Juga rumah milik Sariman, 57, warga Pedukuhan Gedong RT 49 RW 24 dan Supriyono, 40, warga Pedukuhan Gedong RT 51 RW 26.
“Semua berada di desa Pendoworejo, material tanah menerjang tembok rumah warga, dan sampai saat ini sudah dilakukan pembersihan oleh warga, bantuan logistik juga sudah datang dari Dinsos Kulonprogo,” paparnya.
Material tanah longsor juga menutup akses jalan penghubung desa Patihombo-Pendoworejo, tepatnya di Pedukuhan Ngaglik dan Gedong, Purwosari. Kemudian jalan kabupaten yang menghubungkan Desa Karangrejo-Kebonrejo.
Akibat bencana longsor ini, setidaknya lima keluarga di Dusun Ngroto mengungsi karena takut jika terjadi longsor susulan. Sementara longsor yang menutup akses jalan kabupaten penghubung wilayah Kecamatan Girimulyo-Samigaluh memiliki ketebalan hingga tiga meter. Warga bersama aparat TNI dan Kepolisian masih terus melakukan kerja bakti.
“Ada lima keluarga terpaksa mengungsi ke rumah saudara membawa ternaknya. Saya tidur di luar sambil berjaga kalau ada pergerakan tanah,” ujar Sandiyono, 56, warga Ngroto.
Sandiyono menuturkan, saat kejadian sempat mendengar suara gemuruh tanah longsor, ia terbangun dan keluar rumah. Ia bahkan sempat melihat pergerakan tanah longsor yang membuatnya ketakutan. (tom/ila/Nr)