Sempat akan Berhenti Basket

 
 
SORE kemarin langit diwarnai dengan mendung yang menggantung. Namun itu bukanlah halangan bagi Nadya Ardya Tenova. Cewek berpenampilan tomboy itu tetep memenuhi janji untuk datang ke Ekspresi Corner. Ternyata Nandya – begitu sapaan akrabnya, punya janji pemotretan dan ngobrol bareng. Dari obrolan yang terus mengalir, akhir-nya ketahuan, ternyata Nadya yang selalu keliat mandiri dan tomboy itu hyfa se lalu manja terhadap sang kakak. Soalnya kakaknya selalu memberikan dukungan dan suntikan motivasi paling besar dalam perjalanannya di dunia basket.
Nadya Ardya Tenova adalah salah satu First Team Honda DBL 2015 D.I Jogja-karta Series. Center tim basket SMAN 1 Kalasan Sleman yang kelahiran Bantul, 30 November 1997 ini cukup familiar karena enggak pernah segan mengobrak abrik area bawah ring tim lawan. Nadya pertama kali mengenal basket pada lima tahun silam. Saat itu Nadya sebenarnya enggak tertarik masuk kelas olahraga SMPN 1 Kalasan. Tapi karena calon siswa baru ha-rus mengikuti test fisik sebelum akademik. Bakat Nadya akhirnya terpantau, dan berhasil masuk ke kelas olahraga. ” Waktu itu di kelas olahraga aku di-beri tiga pilihan untuk konsen, atletik, basket, dan sepakbola. Akhirnya aku pi-lih basket. Meski masih belum tahu bas-ket itu sebenernya kaya apa,” cerita Nadya.
Dirinya mengaku sempat ingin ber-henti dari basket. Karena masih pemula dan harus menjalani latihan keras yang dilaksanakan hampir setiap minggu. Namun niat menyerah itu sirna ketika dia mulai ketagihan mengikuti kompetisi. ” Ya bayangin aja gimana beratnya seorang pemula enggak tahu dan enggak punya skill basket harus ngejalanin latihan berat hampir setiap hari dalam seming-gu. Tapi yang nyelamatin aku justru berbagai kompetisi yang mulai kami ikutin. Beberapa di antaranya bahkan meraih juara. Dari situ aku mulai me-rasa ketagihan, ternyata enak ya main basket,” kelakar Nadya.
Bersama dengan basket Nadya mene-mukan keluarga. Bahkan orang-orang terdekat dan berarti untuknya hingga saat ini dia temukan dari teman satu tim basket. Momen begitu mengharukan saat dirinya mendapatkan kejutan dari coach dan rekan satu tim di usianya yang keempat belas.” Itu terjadi saat kelas tiga SMP. Setelah latihan mereka ramai-ramai ngerjain aku dan nyeburin ke kolam yang super bau. Tapi ada kebahagiaan di sana. Ter-nyata mereka pada perhatian sama aku,” kenangnya.
Setelah itu Nadya makin mencintai basket. Masuk ke SMAN 1 Kalasan dia menambah porsi latihan. Apalagi men-jelang Honda DBL 2015 lalu. Meski lang-kah Saka – sebutan untuk SMAN 1 Kalasan, hanya sampai babak Fantastic Four, namun tetap bangga karena sudah mem-berikan semua yang dia punya untuk membela nama sekolah. Terpilih menjadi First Team Honda DBL D.I Jogjakarta Series 2015 sudah menjadi harga mati untuknya. Apalagi karena pemain bernomor punggung 9 ini sekarang duduk di bangku kelas XI. Maka tahun ini adalah terakhir kalinya dia mengikuti DBL. (ata/man/ong)