YOGI ISTI P/RADAR JOGJA
TERJUN BEBAS: Usai melambung tinggi, harga beras terjun bebas, sebab stok melimpah akibat panen raya turut menekan harga bahan pangan pokok itu. Terlihat penjual beras tengah menunggu pembeli, kemarin (24/3)
SLEMAN – Petani dihadapkan pada situasi sulit. Musim panen raya belum memihak petani untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Usai melambung tinggi, harga beras terjun bebas. Pasalnya, stok melimpah akibat panen raya turut menekan harga bahan pangan pokok itu.
Kelangkaan stok beras pada Februari sampai awal Maret menyebabkan harga beberapa jenis beras mencapai belasan ribu di pasar-pasar tradisional. Ada yang tembus sampai Rp 18 ribu per kilogram. Dua jenis paling banyak dikonsumsi adalah IR 64 dan Bromo. IR 64 yang semula seminggu lalu Rp 12 ribu per kilogram, kini anjlok menjadi Rp 8.500 hingga Rp 9.000 per kilogram. Demikian pula Bromo, dari Rp 12.000 turun hingga Rp 9.500 per kilogram.
“Sekarang stok melimpah. Pembeli juga banyak, sehingga bersaing harganya,” ungkap Sumiarsih, 40, pedagang Pasar Rejodani, Ngaglik, kemarin (24/3).
Di satu sisi, perempuan paruh baya itu senang lantaran pasokan beras lancar dan cepat habis dibeli konsumen. Sebaliknya, Sumiarsih khawatir jika kondisi tersebut hanya berlangsung sementara. “Biasanya begitu, kalau pas paceklik, ya, tahu-tahu tinggi (harga beras),” lanjutnya.
Kekhawatiran justru dirasakan kaum petani. Penen raya menyebabkan harga gabah anjlok. Padahal, saat stok langka, petani tak bisa menaikkan harga gabah. Gara-garanya, petani kesulitan menjual hasil panen langsung ke konsumen. Tapi harus melalui tengkulak atau pedagang besar. Dengan begitu, harga gabah relatif tetap. Gabah panen basah (GPB) IR64 misalnya, sebulan lalu, harganya Rp 4.200 per kilogram di tingkat petani. Sedangkan Ciherang Rp 5.100 per kilogram. “Jika (harga) beras turun terus, gabah tipis hasilnya,” keluh Suryono, 44, petani di Ngaglik.
Pemerintah memang telah membuat kebijakan terkait harga gabah. Standardisasi harga di tingkat petani minimal Rp 3.800 per kilogram. Menurut Suryono, hal itu tak menjamin harga gabah di petani bisa sesuai kebijakan. “Semua tergantung pasar,” katanya.
Bapak dua anak itu meyakini harga gabah dan beras ditentukan oleh kondisi pasar. Namun, petani tetap tak bisa meraup untung besar. Menurutnya, harga gabah selalu linier dengan beras. Hanya, saat stok langka dan harga beras tinggi, gabah cenderung tetap. Tapi ketika stok melimpah, harga gabah rendah.
Sementara itu, Pemkab Sleman membuktikan analisis stok kebutuhan beras aman. Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (Dispertanhut) menargetkan panen pada 2015 mencapai 301 ribu ton. Dari lahan produktif dengan luas total 17.262 hektare. “Rata-rata per hektare lahan bisa menghasilkan 6,1 ton,” ujar Kepala Dispertanhut Widi Sutikno.
Angka tersebut melebihi rata-rata panen padi nasional sebesar 5,7 ton per hektare. Widi memperkirakan, dalam setahun tiga kali panen. Panen raya musim tanam pertama diperkirakan menghasilkan sekitar 105,3 ribu ton. (yog/ila/mga)