FOTO-FOTO: HERU PRATOMO/RADAR JOGJA
POTENSI besar: Di akuarium-akuarium yang terletak di PASTHY inilah benih ikan-ikan arwana dibesarkan dan dikembangbiakkan.

360 Akuarium Harus Tetap Terjaga Kebersihannya

Ikan arwana termasuk salah satu ikan dengan harga jual tinggi. Tak jarang banyak peminatnya yang menyediakan tempat khusus untuk pembudidayaan. Di Kota Jogja ternyata juga ada tempat khusus untuk pembesaran benih arwana, yakni di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTHY).
HERU PRATOMO, Jogja
GEDUNG besar yang di depannya tertutupi para penjual ikan hias itu menyimpan po-tensi besar. Di gedung yang terletak di bagian selatan PASTHY tersebut merupakan sarana pelayanan dan karantina ikan atau sub-raiser, terutama untuk jenis ikan arwana
Menurut staf UPT Pelayanan Pertanian dan Perikanan Panca Singgih, dalam gedung yang diresmikan sejak 2013 lalu itu terdapat 360 akuarium untuk pembesaran benih arwana jenis silver. “Februari lalu baru datang kiriman 1.000 benih dari Mage-lang,” terangnya.Dalam setiap akuarium ditem-patkan maksimal 50 ekor benih arwana. Setiap hari, jelas Singgih, harus dicek kondisi ikan dan akuarium. Para petugas harus memberi makan setiap pagi serta membersihkan kotoran ikan supaya tidak menjadi jamur. Di luar akuarium juga terdapat tulisan tangan seperti “kurang satu ekor” atau “mati satu ekor pada 11 Maret 2015”. Jika ada yang mengalami gangguan akan dimasukkan dalam akuarium khusus untuk dikarantina. “Se-belumnya kami juga sudah be-lajar langsung ke petani ikan di Magelang, di tempat pembibitan arwana,” jelasnya.
Beni-benih arwana silver yang didatangkan berusia sekitar dua bulan atau yang baru lepas telur dengan harga Rp 30 ribu per ekor. Setelah dibiakkan beberapa bulan dan panjangnya mencapai 10-15 centimeter, akan dijual. Menurutnya, ikan arwana uku-ran itu di pasaran bisa laku hing-ga di atas Rp 70 ribu per ekor. Tapi untuk penjualan sendiri, Singgih mengaku belum tahu karena belum ada keputusan resmi dari UPT Pelayanan Per-tanian dan Perikanan Kota Jogja.Meski saat ini tidak mengalami hambatan berarti dalam pem-budidayaan, Singgih mengaku kadang terkendala dengan hea-ter atau penghangat suhu akua-rium yang tidak maksimal.
Selain itu arwana juga butuh pen-anangan khusus saat meng-ganti air. Akuarium arwana juga hanya berisi sepertiga dari ka-pasitas. “Karena itu kami biasanya memeram air dulu 1-2 hari un-tuk mengganti air di akuarium,” terangnya.Selain arwana, dalam fasilitas sub raiser juga terdapat pembu-didayaan ikan jenis lain, seper-ti louhan, nila, dan koi. Diakui Singgih, meski sudah hampir dua tahun beroperasi, belum banyak masyarakat yang tahu keberadaannya. “Mas-masnya ini yang pertama berkunjung ke sini,” ujar Singgih saat menerima Radar Jogja.
Sementara itu Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Ko-perasi dan Pertanian (Disperin-dagkoptan) Kota Jogja Suyana mengatakan, pihaknya akan menjadikan sub raiser yang be-rada di PASTHY itu sebagai pusat pembenihan ikan di Kota Jogja. Ia berharap selain untuk men-cukupi kebutuhan ikan di DIJ, juga bisa diekspor ke luar ne-geri. “Sejak awal sub raiser itu dibangun, ditujukan sebagai bagian mata rantai suplai ko-moditas arwana,” terangnya.
Suyana menambahkan sebe-narnya sub raiser tersebut juga bisa dimanfaatkan oleh para pe-tani ikan. “Belum dimanfaatkan petani ikan karena selama ini pembesaran ikan hias dinilai bisa dilakukan di rumah atau la-han petani ikan sendiri,” katanya.Pihaknya mengaku membuka bagi petani ikan yang berminat untuk memanfaatkan sub raiser di PASTHY. Bagi petani ikan atau pengguna sub raiser akan ada biaya sewa. Keuntungan pem-besaran arwana juga dinilai cukup memiliki prospek. “Harapannya sub raiser ar-wana ini dapat dimanfaatkan petani ikan agar lebih maksimal. Terutama untuk kelompok tani ikan agar bisa terpadu,” terang Suyana. (*/laz/ong)