JOGJA – Memiliki tugas dalam pelayanan peri-zinan ke masyarakat, petugas Dinas Perizinan (Dinzin) Kota Jogja dianggap rentan tersangkut kasus dan praktik korupsi. Hal itu pula yang mem-buat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) se-cara khusus mendatangi Balai Kota Timoho untuk memberi pembekalan pada personel Dinzin.
KPK secara khusus memberikan pelatihan training Optimalisasi Pelayanan Masyarakat Satu Pintu di Kota Jogja bagi puluhan petugas Dinzin. Menurut Spe-sialis Kampanye dan Sosialisasi Kedeputian Pencegahan KPK Mohammad Jhanattan, sebenar-nya pemahaman pegawai Dinzin Kota Jogja mengenai pencegahan korupsi tergolong tinggi.”Pegawai Dinzin harusnya jangan meminta atau menerima barang dalam bentuk apapun dari ma-syarakat, karena dampaknya tidak hanya saat itu tetapi bisa jangka panjang,” katanya kemarin (24/3).
Menurutnya, pelatihan mengenai transparansi layanan karena di instansi ini dimungkinkan terjadi praktik korupsi seperti suap, pe-merasan hingga gratifikasi saat masyarakat mengurus berbagai perizinan.Selain mengandalkan materi, KPK juga mendatangkan bus anti corruption learning center (ACLC) ke halaman Balai Kota Timoho. Para peserta pelatihan juga diajak untuk bisa mengak-ses layanan yang berisi penge-nalan terhadap korupsi, menge-nali gratifikasi serta pelaporan harta kekayaan penyelenggaran negara. “Bus antikorupsi ini kali pertama singgah di ling-kungan pemerintah daerah, ya di Pemkot Jogja,” terangnya.
Sementara itu Kepala Dinzin Kota Jogja Heri Karyawan menga-kui, di Dinzin rentan terjadi praktik korupsi. Untuk itu pi-haknya sudah membangun ko-mitmen dengan seluruh pegawai di lingkungan Dinzin untuk men-ghindari hal itu, dengan mene-rapkan prinsip transparansi. “Ada kepastian untuk syarat, waktu dan biaya,” jelasnya.Heri menambahkan dalam pelayanan di Dinzin Kota Jogja juga sudah berlapis, mulai dari bagian penerimaan berkas hingga ke kepala dinas. “Mulai dari awal sudah terjaring, mana yang secara adminsitrasi dan teknis yang sudah atau belum memenuhui syarat. Jadi sebagai kepala dinas saya juga tidak bisa semena-mena,” tuturnya. (pra/laz/ong)