FRIETQI SURYAWAN/RADAR JOGJA
BUTUH SOLUSI: Para awak bus ekonomi memarkir kendaraanya di Terminal Tidar. Mereka protes karena bus patas banyak yang menaikkan penumpang di sembarang tempat. Seharusnya bus patas menaikkan penumpang di agen yang ditentukan.
MAGELANG – Sejumlah awak bus melakukan aksi di Terminal Tidar Kota Magelang, kemarin (25/3). Mereka mogok dan hanya memarkirkan bis di terminal. Alasannya, mereka protes atas masih terjadinya Bus Patas Jogja-Semarang yang menaikkan penumpang di sembarang tempat. Bus patas tidak menaikkan penumpang di agen yang ditentukan.
“Memang sekarang kondisinya sepi mencari penumpang. Ini diperparah dengan bus patas yang sembarang tempat menaikkan penumpang. Harusnya kan hanya di agen atau terminal,” ungkap Sutrisno, awak bus Jogja-Semarang kepada koran ini di Terminal Tidar.
Dijelaskan pria asal Muntilan Kabupaten Magelang ini, beberapa titik sering kali dimanfaatkan bus patas. Di antaranya, depan Armada Swalayan Mertoyudan, Ruko Chica depan terminal, depan Pos Polisi Menowo, depan Armada Estate, dan depan pos polisi Secang. Padahal, titik-titik tersebut tidak ada agen bus patas. baik Nusantara maupun Ramayana.
“Kalau Bus Patas Cilacap atau Purwokerto ke Semarang milik PO Sumber Alam tertib. Mereka tidak mau menaikkan penumpang selain di agen. Tetapi yang Ramayana dan Nusantara, itu kebangeten. Makanya kami demo,” paparnya.
Yanto, 40, salah satu kru PO Sumber Waras membenarkan hal ini. Ia bersama kru bus lainnya mogok, karena dirugikan ulah kru angkutan bus patas dari PO Nusantara dan PO Ramayana. Dua PO bus patas tersebut kerap kali mengambil penumpang di sembarang tempat.
“Aturannya kan menaikkan penumpang dari agen yang ada. Kenyataannya, banyak yang menaikkan penumpang di sembarang jalan. Otomatis, mereka memakan penumpang alias rezeki kami. Yang seharusnya naik bus kami, justru naiknya patas,” keluhnya.
Lewat aksi mogok tersebut, Yanto dan awak angkutan lain minta pemegang kebijakan, dalam hal ini Dinas Perhubungan, Komunikasi, dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Magelang menertibkan kelakuan bus patas tersebut.
“Intinya, jangan ada lagi bus patas yang mengambil penumpang di luar agen. Karena mengambil hak kami,” tegasnya.
Sementara, Nur, 40, salah satu agen tiket bus patas Ramayana mengaku, pihaknya mengambil penumpang di luar agen masih terhitung wajar. Sebab, penumpang yang diambil merupakan pelanggan yang jaraknya dari tempat tinggal ke agen terlampau jauh.
“Itu biasa dilakukan. Terutama kepada pelanggan setia kami sebagai bentuk pelayanan. Biasanya, pelanggan menelepon agen dulu untuk pesan tiket dan meminta dijemput di tepi jalan yang dekat rumahnya. Jadi, sebenarnya kami tidak mengambil penumpang bus ekonomi,” ungkapnya.
Akibat aksi, kemarin pagi (25/3) banyak penumpang dibuat bingung dan sempat kesal. Mereka terlambat sampai tujuan. Ada yang melanjutkan perjalanan dengan bus lain. Namun, tidak sedikit yang kembali ke Jogja, meski sampai di Magelang dan akan ke Semarang.
“Saya tidak tahu kenapa kok tiba-tiba berhenti di terminal ini (Terminal Tidar). Padahal, tujuan saya Semarang. Kalau berhenti seperti ini, saya terlambat masuk kantor,” kata Kurniawati, 38, salah satu penumpang yang kesal dan terpaksa kembali ke Jogja.
Protes dan mogok sempat membuat suasana di Terminal Tidar ramai. Sejumlah aparat kepolisian dari Polsek Magelang Selatan dan anggota TNI turun ke lapangan mengamankan lokasi. Termasuk para petugas Dishubkominfo yang mencoba menengahi perkara ini.
Kepala Dishubkominfo Suko Tri Cahyo mengajak kedua belah pihak ke kantornya untuk duduk bersama menyelesaikan masalahnya ini.
“Dari hasil mediasi disepakati, di luar agen patas akan menaikkan penumpang yang hanya memiliki tiket bus patas. Selain itu dilarang. Kalau melanggar, siapapun bisa melaporkan pelanggaran itu dan PO bus patas dikenai sanksi, sesuai prosedur yang ada,” jelas Suko.
Suko meneruskan, ada 47 bus ekonomi jurusan Jogja-Semarang dari 37 PO yang masuk ke terminal. Sementara bus patas berjumlah 30 unit dari dua PO yang ada.(dem/hes/mga)