ZAKKI MUBAROK/RADAR JOGJA
TRADISI: Warga mengarak 17 gunungan dalam puncak pelaksanaan tradisi mapak toyo se-Bantul, kemarin (25/3). (Foto kanan) Wakil Bupati Bantul Sumarno (kiri) membuka pintu air di bendungan Kemiri yang menandai suksesnya tradisi mapak toyo.BANTUL – Air yang bisa mengalir saja harus “dijemput”. Bila tidak, suplai air ke area pertanian dipastikan bakal terganggu. Inilah salah satu pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat dalam tradisi mapak toyo.
Animo warga Kelurahan Timbulharjo, Sewon terhadap tradisi mapak toyo sangat tinggi. Ini terbukti dengan banyaknya warga setempat berpartisipasi dalam penyelenggaraan tradisi adiluhung yang hampir punah tersebut, kemarin (25/3).
Sedikitnya ada 2.000 warga dari 16 dusun di kelurahan Timbulharjo mengikuti puncak pelaksanaan tradisi mapak toyo se-Bantul ini. Tradisi ini dimulai dengan kirab budaya. Dengan mengambil start di Kantor Kelurahan Timbulharjo, ribuan peserta kirab mengarak 17 gunungan yang berisi nasi wiwit dan berbagai hasil bumi. Lalu, iring-iringan ini finish di bendungan Kemiri yang letaknya berjarak sekitar satu kilometer barat kantor kelurahan.
“Kebetulan tahun ini kita menjadi tuan rumah peringatan hari air sedunia dan ulang tahun kedua Gerakan Irigasi Bersih (GIB) yang kedua,” terang Lurah Timbulharjo Kandar.
Kelurahan sengaja mengambil finish kirab budaya di bendungan Kemiri. Ini karena bendungan tersebut merupakan salah satu yang terbesar di wilayah Timbulharjo. Keberadaan bendungan ini mampu mengaliri sekitar 340 hektare area pertanian yang tersebar di sejumlah dusun di Timbulharjo. Antara lain, Dadapan, Gatak, Balong, Gabusan, dan Dagan.
Penyelenggaraan mapak toyo tak sekadar untuk melestarikan tradisi. Namun, ada pesan moral yang ingin disampaikan kepada masyarakat khususnya para petani. “Kita mengimbau agar masyarakat tak membuang sampah ke sungai,” tegasnya.
Selain itu, melalui tradisi mapak toyo ini masyarakat juga diajak rutin membersihkan saluran irigasi menjelang musim tanam. Agar suplai air ke area pertanian terjamin.
“Kalau nggak dijemput, airnya bisa macet karena ada banyak sampah di saluran irigasi maupun sungai,” jelas Ketua GIB Merti Tirto Amartani Bantul Sunardi Wiyono.
Pria yang akrab disapa mbah Nardi ini menambahkan, sejak berdiri pada 2013, GIB menggencarkan pelestarian tradisi mapak toyo kepada seluruh para petani. Hasilnya sangat menggembirakan. Hampir seluruh petani di Bantul rutin menggelar tradisi mapak toyo menjelang musim tanam.
“Setahun ada tiga kali. Yang paling besar ya ini. Karena juga sekaligus memperingati hari air sedunia,” terangnya.
Menurutnya, peringatan hari air sedunia di Bantul diselenggarakan mulai tanggal 20 hingga 26 Maret. Ada sejumlah agenda acara dalam peringatan tahunan ini. Salah satunya adalah penyelenggaraan tradisi mapak toyo ini. (zam/ila/Nr)