DOKUMENTASI PWO PANCA BUDAYA
KRITIK PEJABAT: Salah satu adegan pementasan wayang orang dalam memperingati sewindu wafatnya Ki Hadi Sugito, dan aksi Didik Nini Thowok yang didapuk sebagai emban, (21/3).

Sindir Pejabat Negara Pilihan Rakyat

Memperingati sewindu wafatnya Ki Hadi Sugito, dalang kondang asal Kulonprogo, Paguyuban Wayang Orang (PWO) Panca Budaya DIJ menggelar pementasan wayang orang, yang dilanjutkan pentas wayang kulit dalam satu panggung. Seperti apa?
DWI AGUS, Kulonprogo
PEMENTASAN PWO Panca Budaya DIJ, Sabtu malam lalu (21/3), memang istimewa. Tak hanya tempatnya yang mengambil di kediaman almarhum Ki Hadi Sugito, juga pementasan yang menampilkan wayang orang, dan wayang kulit oleh Ki Agus Psht.Dalam kesempatan tersebut, PWO Panca Budaya DIJ memantapkan jiwa berkeseni-annya. PWO yang menaungi pelaku seni kabupaten-kota se DIJ ini, menjelajah Ka-bupaten Kulonprogo. Malam itu (21/3), suasana di Tayuban, Panjatan, Kulonprogo sangatlah ramai. Mengangkat lakon Bima Bothok, pementa-san PWO dilakukan dengan format prosce-nium stage
Lakon ini mengisahkan perja-lanan Dewi Kunti yang diperan-kan Lestari bersama kelima anaknya.”Pentas malam itu sekaligus memperingati sewindu wafatnya Ki Hadi Sugito. Pemilihan lakon Bima Bothok pun dirembug bersama keluarga almarhum Ki Hadi Sugito. Karena setelah pen-tas PWO usai, dilanjutkan pen-tas wayang kulit oleh putra al-marhum, yaitu Ki Agus Psht,” kata Ketua Paguyuban PWO Panca Budaya Agus Setiawan, (23/3).Dalam pementasan wayang kulit mengangkat lakon Babat Alas Wisomarto. Menurutnya, konsep pementasan kali sang-atlah istimewa. Terlebih untuk memperingati sewindu keper-gian Ki Hadi Sugito dengan pe-mentasan wayang orang dan wayang kulit.Dalam kesempatan ini, seniman tari Didik Nini Thowok ikut serta. Pemiliki nama asli Didik Hadiprayitno ini berperan se-bagai emban. Bahkan pelawak yang juga pelaku ketoprak Bambang Rabies turut mera-maikan pementasan malam itu.”Kebetulan mas Didik beber-apa saat yang lalu punya ke-inginan bisa main di Panca Bu-daya. Kemarin mas Didik ber-peran menjadi embannya Nyai Sagotra. Suasananya sungguh segar, khususnya saat adegan komedi. Semakin lengkap dengan hadirnya Bambang Rabies dan anaknya,” ungkap Agus.
PWO Panca Budaya tidak me-ninggalkan ciri khas dalam setiap pementasan. Lakon Bima Bothok yang diangkat malam itu, me-miliki relevansi terhadap kehidu-pan sosial. Lakon yang dibawa-kan dalam durasi 3 jam ini, bercerita tentang tugas seorang pejabat negara.Sutradara pementasan Tukiran mengungkapkan, pejabat ne-gara sejatinya adalah wakil ra-kyat. Meski menduduki jabatan penting, tetap terpilih atas sua-ra rakyat. Sehingga sudah men-jadi kewajiban mendengarkan dan melakoni apa yang disuara-kan rakyat.”Seharusnya pejabat bersedia berkorban demi rakyatnya, bu-kan sebaliknya. Kondisi ini kita rasakan dalam kehidupan di Indonesia. Sebab pejabat ne-gara mulai dari eksekutif, legis-latif, maupun yudikatif, adalah pengayom dan pelayan rakyat, bukan majikan bagi rakyat,” kata Tukiran.
Dalam kisah ini digambarkan bagaimana Bima menjadi sosok yang berani. Tokoh yang diperan-kan Yestriyono Pilianto berani menentang Prabu Mraya Baka. Sosok pemimpin Kerajaan Eka-cakra yang diperankan Yoyok Catur ini gemar menyengsarakan rakyatnya.Digambarkan bahwa sang prabu gemar menyantap manu-sia setiap sebulan sekali. Hal ini tentu menimbulkan keresahan bagi warganya. Mendengarkan ini, Dewi Kunti ibunda dari Bima memerintahkan anaknya untuk membantu.”Di sini lah bentuk pengorba-nannya, karena Bima mau meng-gantikan posisi rakyat biasa. Adegan memakan manusia da-lam lakon ini juga berarti kiasan. Di mana rakyat kecil sering dima-kan dalam tanda kutip oleh penguasanya,” kata Tukiran.
Dikisahkan bahwa Dewi Kun-ti yang diperankan Lestari sedang mengembara bersama kelima anaknya. Selain Wijasena atau Bima ada Wijakangka diperan-kan Rahmad Santosa, Wijanar-ka diperankan Herida Damar-wulan, Pinten diperankan Gang-gas dan Tansen diperankan Hanif. Pengembaraan ini, ka-rena sedang menjalani hukuman buang di tengah hutan Warana-wata.Dalam pembuangan itu, Dewi Kunti dan kelima anaknya sam-pai di Padukuhan Panahilan, Kerajaan Ekacakra. Kepemim-pinan Prabu Mraya Baka yang suka memangsa manusia me-resahkan warganya. Pimpinan padukuhan Demang Ijraka yang diperankan Tukiran bermaksud pasang badan. Tapi istrinya, Nyi Demang Ijraka di-perankan Hartatik dan kedua anaknya, Bambang Urawan di-perankan Hendy Hardiawan dan Niken Sulastri diperankan Rini Widyastuti, tidak rela. Mereka ingin menggantikan posisi De-mang Ijraka.”Rebutan posisi untuk berkor-ban itu terdengar oleh Dewi Kunti dan kelima anaknya. De-wi Kunti kemudian minta pada Bima untuk menggantikan po-sisi Demang Ijraka dan disang-gupi. Maka Bima pun kemudian dilumuri bumbu parutan kelapa muda hingga menyerupai lauk bothok,” kata Tukiran.
Tapi Bima Bothok tidak mam-pu disantap oleh sang prabu, sehingga murkalah sang prabu. Pertempuran tak terelakkan an-tara Bima yang dibantu keempat saudaranya melawan Prabu Mraya Baka dan bala tentaranya. Sete-lah melalui pertempuran panjang, kemenangan jatuh di pihak Pan-dawa.Menariknya dalam pementasan kali ini, Panca Budaya sedikit keluar dari pakem. Ini terlihat dari gaya penyutradaraan dan format tarian. Dalam lakon kali ini nyaris tidak ada adegan jejer kerajaan sepanjang per-gelaran berlangsung.Setiap adegan digarap oleh penari muda dengan ide yang lebih segar. Sehingga format pementasan kali ini lebih segar dan tidak monoton. Menurut Tukiran, keluar dari pakem itu bukanlah masalah, karena wa-yang orang termasuk dalam seni pertunjukan.”Karena itu sisi pertunjukannya memang harus lebih ditonjolkan, ketimbang hanya bertahan pada pakem. Perubahan atau pembaharuan tidak selalu iden-tik dengan perusakan ketika perubahan maupun pembaha-ruan tersebut dimaksudkan agar lebih bisa diterima oleh gene-rasi sekarang yang setiap saat sudah dijejali dengan hal-hal yang tidak berpakem,” pungkas-nya. (*/jko/ong)